Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) anjlok sebesar 5,84 persen ke level Rp 6.050 per lembar pada penutupan perdagangan pekan lalu, Jumat (24/4/2026), yang menjadi titik terendah sejak masa pandemi Covid-19 tahun 2021. Penurunan tajam ini dipicu oleh aksi jual bersih investor asing (net foreign sell) yang mencapai nilai Rp 2,1 triliun dalam satu hari perdagangan.
Sebagaimana dilansir dari Detik Finance, tekanan jual tidak hanya melanda BBCA, tetapi juga dialami oleh deretan bank besar lainnya di Bursa Efek Indonesia. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) terkoreksi 2,81 persen ke level Rp 4.500, sementara PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menyusut 2,85 persen menjadi Rp 3.070 per saham.
Analis Trimegah Sekuritas, Jonathan Gunawan, menjelaskan bahwa investor asing sedang melakukan penyesuaian portofolio akibat ketidakpastian global dan risiko makroekonomi domestik. Saham sektor perbankan seringkali menjadi aset pertama yang dilepas investor karena dianggap sebagai representasi kondisi ekonomi nasional.
"Bank itu ibarat jantung yang memompa aliran darah ke seluruh sendi-sendi perekonomian. Apabila prospek makro memburuk, saham perbankan yang akan pertama kali terkena imbas," ujar Jonathan dalam keterangannya pada Senin (27/4/2026).
Beberapa faktor eksternal utama yang menekan pasar saham meliputi konflik geopolitik di Timur Tengah antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Situasi ini memicu kenaikan harga energi global dan menekan nilai tukar rupiah, sehingga memengaruhi ekspektasi pertumbuhan laba emiten di masa depan.
Selain ketidakpastian global, sentimen negatif juga datang dari perubahan outlook Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional serta tinjauan indeks MSCI terhadap pasar modal domestik. Meski demikian, fundamental internal BBCA dilaporkan tetap solid dengan perolehan laba bersih sebesar Rp 14,7 triliun pada kuartal I-2026.
Berdasarkan riset dari BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), laba BBCA tumbuh 4 persen secara tahunan dan masih sesuai dengan ekspektasi pasar. Pertumbuhan kredit perusahaan mencapai 6 persen yang didominasi oleh segmen korporasi, meskipun pembiayaan di sektor konsumer masih menghadapi tantangan.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano dan Naura Reyhan Muchlis, menyebutkan bahwa perbaikan kualitas aset pada segmen wholesale mampu menyeimbangkan pelemahan kredit ritel. Saat ini, BBCA tetap menargetkan pertumbuhan kredit di kisaran 8-10 persen dengan valuasi yang dinilai sudah cukup menarik bagi investor jangka panjang.