Pergerakan saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) tengah menjadi sorotan tajam di lantai bursa setelah mencatatkan lonjakan signifikan pada penutupan perdagangan Rabu (18/2/2026). Emiten rokok raksasa asal Kediri ini berhasil menarik minat investor, terutama pemodal asing yang mulai agresif melakukan aksi beli di tengah valuasi yang dinilai masih sangat murah. Fenomena “diskon gede-gedean” ini memicu diskusi hangat di kalangan pelaku pasar mengenai potensi pembalikan arah (rebound) jangka panjang bagi saham konsumer tersebut.
Ketertarikan investor bukan tanpa alasan, mengingat performa GGRM belakangan ini menunjukkan daya tahan yang cukup solid di tengah fluktuasi indeks. Setelah sempat mengalami tren koreksi dalam beberapa waktu lalu, kemunculan akumulasi asing menjadi sinyal positif bahwa kepercayaan pasar mulai pulih. Volume perdagangan yang cukup tebal juga mengindikasikan bahwa pergerakan harga kali ini didorong oleh fundamental dan sentimen teknikal yang kuat, bukan sekadar fluktuasi sesaat.
Secara fundamental, GGRM memiliki daya tarik yang sulit diabaikan oleh para penganut value investing, terutama jika menilik nilai buku perusahaan yang jauh melampaui harga pasarnya saat ini. Dengan posisi harga yang masih tertahan di bawah Rp 17.000, sementara aset bersih per saham berada di level yang jauh lebih tinggi, GGRM menjadi salah satu saham blue chip dengan diskon paling mencolok di sektornya. Kondisi ini menempatkan Gudang Garam dalam radar pantau utama bagi mereka yang mencari peluang investasi di aset yang sedang undervalued.
Analisis Pergerakan Harga dan Aksi Beli Asing di GGRM
Pada perdagangan Rabu (18/2), saham GGRM ditutup menguat 3,85% ke level Rp 16.875 per lembar saham. Aktivitas pasar terlihat sangat bergairah dengan total 2,25 juta saham yang berpindah tangan melalui 2.555 kali frekuensi transaksi. Nilai transaksi total mencapai Rp 37,66 miliar, sebuah angka yang menunjukkan likuiditas yang cukup baik untuk emiten di sektor industri pengolahan tembakau.
Satu poin krusial yang perlu dicatat adalah kehadiran investor asing yang membukukan beli bersih (net buy) senilai Rp 5,23 miliar hanya dalam satu hari perdagangan. Aksi borong oleh pihak asing ini sering kali dianggap sebagai indikator bahwa prospek emiten ke depan mulai cerah, atau setidaknya, harga saat ini sudah dianggap sangat menguntungkan untuk masuk secara bertahap.
Tren Bulanan dan Pemulihan Momentum
Jika kita melihat ke belakang, tren positif ini sebenarnya sudah mulai terpola sejak pekan lalu. Pada Jumat (13/2/2026), GGRM tercatat naik tipis 0,78% setelah sempat mengalami tekanan jual selama tiga hari bursa berturut-turut. Konsolidasi ini tampaknya menjadi pijakan bagi GGRM untuk melesat lebih jauh minggu ini.
Secara kumulatif dalam satu bulan terakhir, performa saham Gudang Garam sungguh impresif dengan kenaikan mencapai 11,94%. Kepercayaan asing juga terlihat konsisten dengan total net buy mencapai Rp 44,98 miliar dalam periode 30 hari terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa akumulasi tidak terjadi secara mendadak, melainkan hasil dari pengamatan pasar terhadap kondisi fundamental perusahaan yang mulai stabil.
Valuasi Memikat: PBV di Bawah 1 Kali
Salah satu alasan utama mengapa analis menyebut saham ini sedang “diskon” adalah rasio Price to Book Value (PBV). Saat ini, PBV GGRM berada di angka 0,52 kali. Secara sederhana, investor hanya perlu membayar sekitar separuh dari nilai aset bersih yang dimiliki perusahaan per sahamnya.
Perbandingan Harga Pasar vs Nilai Buku
Berdasarkan data keuangan terbaru, nilai buku atau book value per saham GGRM mencapai angka kisaran Rp 32.500. Jika dibandingkan dengan harga pasar saat ini di level Rp 16.875, terdapat selisih yang sangat lebar. Dari kacamata analisis fundamental, kondisi PBV di bawah 1 kali pada perusahaan sebesar Gudang Garam sering dianggap sebagai peluang emas, asalkan kinerja operasional tetap terjaga. Sementara itu, rasio Price Earning Ratio (PER) GGRM tercatat berada di level 22 kali secara disetahunkan (annualized).
Rekomendasi Analis dan Target Harga
Melihat potensi pemulihan yang ada, lembaga sekuritas ternama mulai memberikan pandangan optimis. Mandiri Sekuritas, dalam laporan Equity Valuation terbarunya, memberikan rekomendasi beli (buy) untuk saham GGRM.
Target Harga Jangka Menengah
Mandiri Sekuritas mematok target harga GGRM di level Rp 19.000. Target ini mencerminkan potensi kenaikan (upside) yang cukup menarik dari harga penutupan saat ini. Optimisme ini didasarkan pada perbaikan margin dan kemampuan perusahaan dalam menavigasi kebijakan cukai hasil tembakau yang selalu menjadi tantangan utama di sektor ini.
Dikutip dari investor.id 19/2/26, pergerakan ini menjadi sinyal penting bagi pasar modal Indonesia bahwa saham-saham konsumer dengan fundamental kuat mulai kembali dilirik setelah sekian lama tertinggal oleh sektor komoditas dan perbankan.