Schneider Electric berkolaborasi dengan Perkumpulan Teknik Pelayanan-Kesehatan Indonesia (PTPI) menyelenggarakan Healthcare Leadership Forum 2026 di Jakarta pada Selasa (5/5/2026). Pertemuan strategis ini bertujuan mempercepat konversi rumah sakit konvensional menjadi rumah sakit pintar yang lebih digital, efisien, serta berkelanjutan.
Langkah transformasi ini dianggap mendesak seiring kebijakan pemerintah yang terus mendorong digitalisasi total pada sektor layanan kesehatan nasional. Dilansir dari Medcom, operasional rumah sakit selama 24 jam penuh memicu konsumsi energi yang sangat besar, mencapai 2,5 kali lipat dibandingkan gedung komersial lainnya.
"Schneider Electric berkomitmen mendukung pemerintah melalui integrasi elektrifikasi, otomasi, dan digitalisasi untuk meningkatkan ketahanan infrastruktur serta efisiensi energi jangka panjang," kata Martin Setiawan, President Director Schneider Electric Indonesia & Timor Leste.
Dalam sesi diskusi bertajuk Future Challenges & Sustainability of Indonesian Hospitals, para ahli mengidentifikasi sejumlah tantangan struktural yang dihadapi industri medis saat ini. Isu-isu utama yang dibahas mencakup tingginya biaya operasional, peningkatan pengalaman pasien, hingga persoalan sistem informasi yang masih terfragmentasi.
Eko Supriyanto selaku Presiden PTPI menegaskan perlunya sinergi yang kuat antara pembuat regulasi, penyedia pembiayaan, dan sumber daya manusia. Hal tersebut diperlukan guna menjamin keberlangsungan layanan kesehatan di masa depan melalui adopsi teknologi yang tepat sasaran.
Beberapa fasilitas kesehatan di Indonesia telah menerapkan sistem otomasi untuk menekan pengeluaran energi. RS Kanker Dharmais kini menggunakan building automation system (BAS), sementara RS Telogorejo dilaporkan berhasil mencapai penghematan energi hingga lebih dari 15 persen melalui integrasi sistem digital secara menyeluruh.
Schneider Electric sendiri memperkenalkan solusi EcoStruxure for Healthcare sebagai platform berbasis IoT untuk mendukung manajemen energi kritikal dan keamanan sistem. Secara global, teknologi ini diklaim mampu mengurangi konsumsi energi rumah sakit hingga 20 persen melalui pemanfaatan analitik data secara real-time.
Adopsi teknologi pintar ini diproyeksikan tidak hanya akan mendongkrak mutu pelayanan medis di dalam negeri. Implementasi sistem digital juga diharapkan mampu menciptakan ekosistem rumah sakit yang lebih tangguh dalam menghadapi tantangan operasional dan krisis di masa mendatang.