Selat Hormuz: Jalur Vital Pasokan Minyak Dunia Terancam

Ketegangan Iran dan AS memicu kekhawatiran penutupan Selat Hormuz. Selat ini vital bagi 20% konsumsi minyak global.

Ancaman serangan terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz oleh Iran meningkatkan ketegangan di Timur Tengah. Eskalasi ini bermula setelah wafatnya Ayatollah Ali Khamenei pada 28 Februari 2026, dan berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi global.

Pernyataan keras dari Komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) ini telah mengguncang pasar minyak dunia, memicu kekhawatiran akan terjadinya krisis ekonomi global.

Sebagai respons terhadap situasi tersebut, Iran meningkatkan tekanan ekonomi pada komunitas internasional dengan mendesak diakhirinya perang melawan AS dan Israel. Pada 2 Maret 2026, Ebrahim Jabari, penasihat senior kepala staf IRGC, menyampaikan ancaman eksplisit.

"Selat (Hormuz) telah ditutup. Jika ada yang mencoba untuk menyeberang, pahlawan dari garda revolusi dan angkatan laut kami akan membakar kapal-kapal tersebut," tegas Jabari dikutip dari laman Metro TV, Selasa. 3 Maret 2026.

Ancaman ini bukan tanpa dasar. Analis ekonomi telah lama memperingatkan dampak penutupan Selat Hormuz terhadap perekonomian global, terutama di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran.

Selat Hormuz adalah jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman, yang kemudian terhubung ke perairan internasional. Lokasinya diapit oleh Iran di utara serta Oman dan Uni Emirat Arab di selatan.

Dengan lebar hanya sekitar 33 kilometer pada titik tersempitnya, Selat Hormuz menjadi salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia. Posisi ini sangat vital secara ekonomi dan geopolitik karena merupakan rute energi utama.

Menurut data Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat (EIA), sekitar 20 juta barel minyak per hari melewati selat ini pada tahun 2024. Jumlah ini setara dengan sekitar 20 persen dari total konsumsi minyak bumi global.

Nilai perdagangan energinya mencapai hampir USD600 miliar per tahun. Tanker-tanker besar mengangkut minyak dan gas dari negara-negara produsen utama seperti Arab Saudi, Kuwait, Irak, Qatar, Bahrain, UEA, dan Iran.

Asia menjadi tujuan utama komoditas ini. Sekitar 84 persen minyak mentah dan kondensat serta 83 persen gas alam cair pada tahun 2024 dikirim ke negara-negara seperti Tiongkok, India, Jepang, dan Korea Selatan. Negara-negara ini sangat rentan jika pasokan dari Hormuz terganggu.

Meskipun Selat Hormuz diakui secara internasional sebagai jalur pelayaran bebas, gangguan sekecil apapun dapat menyebabkan dampak yang signifikan. Selain perannya saat ini, selat ini juga memiliki sejarah panjang sebagai jalur perdagangan penting sejak berabad-abad lalu.

Dampak Penutupan Selat Hormuz

Penutupan Selat Hormuz akan berdampak besar pada sistem energi dan ekonomi global. Sebagai salah satu titik rawan terpenting di dunia, gangguan pada jalur ini akan menyebabkan keterlambatan pasokan yang besar.

Selain itu, biaya pengiriman akan meningkat secara drastis, memicu lonjakan harga energi yang dapat membahayakan stabilitas ekonomi global. Pasar telah menunjukkan sensitivitas terhadap ancaman di selat ini.

Hakan Kaya, manajer portofolio senior di Neuberger Berman, menekankan bahwa dampak yang dipertaruhkan sangat besar. “Skala dari apa yang dipertaruhkan tidak dapat dilebih-lebihkan,” kata Kaya dikutip dari laman CBC News.

Meskipun perlambatan parsial selama satu atau dua minggu mungkin dapat diatasi dengan cadangan strategis, penutupan total selama satu bulan atau lebih dapat menyebabkan harga minyak mentah dunia melonjak tajam, bahkan melebihi USD100 per barel.

Recommended