Seorang siswa SMK Negeri 4 Samarinda berinisial MRS meninggal dunia pada Jumat, 24 April 2026, setelah sempat mengalami penurunan kondisi fisik dan pembengkakan pada bagian kaki. Kabar duka ini dikonfirmasi melalui laporan resmi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Timur yang meninjau kronologi kejadian tersebut.
Dilansir dari Medcom, laporan yang dikeluarkan oleh Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Timur, Armin, menjelaskan bahwa MRS mulai merasakan sakit setelah mengikuti Praktik Kerja pada periode Februari hingga Maret 2026. Siswa tersebut sempat disarankan beristirahat sejak 1 April 2026 karena kondisi kesehatannya yang terus menurun.
Pihak sekolah mencatat bahwa MRS sempat mengalami kendala biaya pengobatan dan tunggakan administrasi kesehatan sebesar Rp2.400.000. Untuk membantu meringankan beban keluarga, pihak sekolah memfasilitasi bantuan dana pengobatan sebesar Rp1.100.000 serta membantu pengurusan BPJS melalui koordinasi dengan ketua RT setempat.
Kabar yang beredar di media sosial menyebutkan penyebab sakitnya MRS dipicu oleh penggunaan sepatu yang ukurannya terlalu kecil karena keterbatasan ekonomi. Namun, hasil klarifikasi sekolah menyebutkan bahwa orang tua menyatakan ukuran sepatu siswa sebenarnya adalah nomor 43, bukan nomor 40 seperti yang diinformasikan sebelumnya.
Pihak sekolah telah melakukan dua kali kunjungan rumah untuk memantau kondisi MRS sebelum yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia. Pada kunjungan kedua tanggal 23 April 2026, kondisi kaki siswa dilaporkan sempat mengempis dan membaik, sehingga sekolah berencana membelikan sepatu baru yang sesuai ukuran.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Timur menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada kesimpulan medis yang mengaitkan kematian siswa dengan penggunaan sepatu. Penegasan ini didasarkan pada ketiadaan diagnosis resmi dari fasilitas kesehatan terkait penyebab utama menurunnya kondisi fisik MRS.
"Berdasarkan hasil klarifikasi dan pendalaman data, pihak sekolah telah melakukan pendampingan secara maksimal," ujar Armin, Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Timur dalam laporan tersebut. Saat ini, pihak sekolah telah mendampingi proses pemulasaraan hingga pemakaman jenazah siswa tersebut di Samarinda.