Lembaga pemeringkat internasional S\&P Global memberikan tanggapan positif terhadap langkah Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara atau Danantara yang berencana merampingkan jumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pada Jumat (17/4/2026). Program konsolidasi ini menargetkan penyusutan jumlah BUMN dan anak usahanya dari 1.000 entitas menjadi sekitar 300 perusahaan saja.
Dilansir dari Detik Finance, S\&P Global memproyeksikan bahwa meskipun portofolio BUMN akan menjadi lebih terbatas, langkah ini sangat krusial untuk memperkuat akses pendanaan. Penurunan jumlah entitas ini diyakini dapat meningkatkan kepercayaan investor internasional terhadap fundamental perusahaan plat merah di Indonesia.
"Seiring berjalannya waktu, BUMN yang lebih besar dan dominan di sektor masing-masing dapat muncul dan memberikan kontribusi yang lebih berarti bagi pertumbuhan ekonomi negara," tulis S\&P Global dalam laporan resminya yang dikutip pada Jumat (17/4/2026).
Analisis lembaga tersebut menunjukkan bahwa entitas yang beroperasi di industri strategis memiliki peran yang sulit digantikan oleh sektor swasta. Sementara itu, BUMN skala kecil yang memiliki fungsi tumpang tindih akan diprioritaskan untuk menjalani proses penggabungan atau restrukturisasi menyeluruh oleh pemerintah.
Upaya serupa sebelumnya telah diimplementasikan melalui pembentukan PT Pelabuhan Indonesia (Persero) yang menyatukan empat BUMN pelabuhan. Sektor aviasi juga telah melalui proses serupa dengan pembentukan PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney yang mengonsolidasikan dua pengelola bandara nasional.
S\&P Global mencatat bahwa Danantara telah memulai tiga langkah restrukturisasi strategis pada sejumlah perusahaan besar. Langkah pertama mencakup perombakan jajaran direksi dan komisaris pada PT Pertamina (Persero), PT PLN (Persero), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, hingga PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk.
Langkah kedua melibatkan pemberian suntikan modal negara untuk memperkuat struktur keuangan tiga emiten negara. Ketiga BUMN yang menerima dukungan restrukturisasi modal tersebut adalah Garuda Indonesia, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.
Terakhir, Danantara tengah memproses konsolidasi operasional pada unit bisnis Subholding Pertamina. Rencana strategis lainnya yang menjadi sorotan adalah proses penggabungan maskapai Garuda Indonesia dengan Pelita Air guna menciptakan efisiensi di industri penerbangan nasional.