Spekulasi Kekurangan Rudal Israel Muncul di Tengah Perang Iran

Israel membantah kekurangan rudal pencegat di tengah kekhawatiran perang berkepanjangan dengan Iran dan sekutunya.

Potensi perang berkepanjangan antara Israel-Amerika Serikat dengan Iran memunculkan kekhawatiran terkait pasokan rudal. Israel dan AS terus menggunakan rudal pencegat untuk menangkis serangan dari Iran dan Hizbullah, memicu spekulasi tentang potensi penipisan stok mereka.

Meskipun pejabat Israel berupaya meredakan kekhawatiran ini dan pakar menyatakan tidak ada masalah, produksi rudal pencegat baru membutuhkan waktu yang lama. Jumlah pasti stok yang tersisa dirahasiakan demi alasan keamanan.

Situs AS, Semafor, melaporkan bahwa Israel telah memberi tahu AS tentang kondisi kritis pasokan rudal pencegat balistik mereka. Laporan ini mengutip pernyataan dari sumber pejabat AS. Bersamaan dengan itu, pemerintah Israel menyetujui anggaran tambahan sekitar USD 826 juta untuk Kementerian Pertahanan guna pengadaan pertahanan mendesak.

Washington Post sebelumnya melaporkan bahwa AS memindahkan sebagian sistem rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) dari Korea Selatan ke Timur Tengah. Namun, sumber menyatakan langkah ini sebagai tindakan pencegahan dan bukan indikasi kekurangan rudal pencegat dalam waktu dekat.

Rudal pencegat memegang peranan penting bagi pertahanan Israel, terutama dalam menghadapi serangan udara. Israel sangat bergantung pada sistem pertahanan udara berlapis untuk mencegat dan menghancurkan proyektil di udara. Tanpa rudal pencegat, ratusan rudal dan roket yang diluncurkan ke Israel sejak perang pecah pada 28 Februari lalu berpotensi menyebabkan kehancuran.

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) membantah laporan tentang potensi kekurangan rudal pencegat pertahanan udara. Seorang pejabat militer Israel mengklaim bahwa IDF tidak mengalami kekurangan amunisi. "Kami bersiap untuk konflik yang berkepanjangan. Kami memantau situasi setiap saat," kata pejabat tersebut, dikutip dari Times of Israel.

Arrow 3 adalah sistem pertahanan jarak jauh tercanggih Israel saat ini. Sistem ini dirancang untuk mencegat rudal balistik, seperti yang ditembakkan dari Iran, saat masih berada di luar atmosfer Bumi. Sistem pertahanan udara lainnya, seperti Iron Dome dan David's Sling, dirancang untuk mencegat proyektil dengan jangkauan lebih pendek.

Rudal balistik, yang terbang mengikuti jalur yang ditentukan, umumnya dianggap lebih sulit dicegat. Peneliti senior Yehoshua Kalisky menjelaskan bahwa rudal balistik terdiri dari mesin, bagian pembawa bahan bakar, sensor, dan hulu ledak.

Mesin mendorong rudal dengan kecepatan tinggi dan terlepas setelah bahan bakarnya habis. Sisa badan rudal melanjutkan lintasan balistik di luar atmosfer sebelum menukik menuju target. Di fase ini, rudal mungkin melepas umpan, hulu ledak yang dapat bermanuver, atau munisi tandan yang membuat pencegatan presisi sangat sulit.

"Untuk mencegah kerusakan tambahan atau bahaya yang disebabkan oleh kegagalan pencegatan, rudal harus dicegat jauh dari targetnya," tulis Kalisky.

Rudal berhulu ledak tandan atau bom klaster, yang digunakan luas dalam pertempuran ini, menambah kerumitan. Idealnya rudal harus dihantam sebelum bom tandan menyebar dan melepas puluhan bom kecil yang meluncur secara acak. Hal ini menimbulkan masalah bagi rudal pencegat karena menuntut pencegatan dilakukan dari jarak lebih jauh.

Recommended