Sri Lanka mengambil langkah drastis dengan memerintahkan pemadaman lampu jalan, lampu neon, dan papan reklame mulai Selasa (24/3). Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mengurangi konsumsi energi sebesar 25% akibat kekurangan pasokan yang sedang melanda negara tersebut.
Pemadaman lampu jalan diberlakukan setelah pukul 21.00, kecuali di wilayah-wilayah yang memiliki tingkat keamanan tinggi. Selain itu, seluruh lembaga negara juga diminta untuk membatasi penggunaan pendingin ruangan (AC), menyusul lonjakan harga minyak dan gas yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah.
Juru Bicara Pemerintah Sri Lanka, Nalinda Jayatiss, menyatakan, "Kita perlu mengurangi konsumsi setidaknya 25%. Kami berharap sektor swasta juga akan mematuhi pedoman yang disusun oleh panel ahli," seperti dikutip dari AFP, Kamis (26/3/2026).
Sebelumnya, harga bahan bakar minyak (BBM) di Sri Lanka telah mengalami kenaikan hingga sepertiga sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan ke Iran. Serangan balasan yang terus berlanjut ini telah menyebabkan gangguan pada pasokan energi global.
Guna menghemat BBM, pemerintah Sri Lanka telah memberlakukan sistem kerja empat hari dalam seminggu dan menerapkan kembali pengaturan kerja dari rumah (WFH) sejak pekan lalu.
Menurut seorang pejabat kementerian energi, permintaan puncak energi saat ini dipenuhi dengan menggunakan batu bara dan diesel. Apabila konsumsi energi tidak berhasil dikurangi, Sri Lanka berisiko mengalami pemadaman listrik nasional.
Presiden Sri Lanka, Anura Kumara Dissanayake, sebelumnya telah mengimbau pemilik mobil listrik untuk menghindari pengisian daya pada malam hari. Hal ini bertujuan untuk mencegah lonjakan permintaan sebesar 300 megawatt, yang akan memaksa Sri Lanka untuk membakar lebih banyak batu bara dan diesel demi menjaga stabilitas jaringan listrik.
Sebagai informasi, sekitar separuh dari total listrik yang dihasilkan di Sri Lanka berasal dari batu bara dan diesel. Negara ini saat ini belum memiliki fasilitas penyimpanan baterai untuk energi terbarukan yang surplus pada siang hari.