Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, menegaskan bahwa ilmu filsafat tetap relevan dan menjadi fondasi utama lahirnya teknologi kecerdasan buatan (AI) pada Kamis, 7 Mei 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan Stella untuk menanggapi pandangan bahwa filsafat merupakan ilmu usang, dengan menekankan bahwa seluruh gelar doktor sains (PhD) secara harfiah berarti Doctor of Philosophy.
Dilansir dari Medcom, Stella memaparkan tiga bukti utama keterkaitan tersebut, dimulai dari sejarah AI yang berakar pada pertanyaan filosofis matematikawan Alan Turing mengenai kemampuan mesin untuk berpikir.
"Pertanyaan 'Can Machines Think?' atau 'Apakah mesin bisa berpikir?' pertama kali dipublikasikan dalam jurnal filsafat Mind: A Quarterly Review of Psychology and Philosophy," kata Stella Christie, Wamendiktisaintek.
Bukti kedua mencakup peran filsafat dalam membedakan sains murni dengan pseudosains melalui konsep falsifikasi yang diperkenalkan oleh filsuf Carl Popper.
Stella menjelaskan bahwa sebuah teori hanya dianggap ilmiah jika dapat diuji dan berpotensi dibuktikan salah, seperti teori relativitas Einstein yang dibandingkan dengan ramalan astrologi yang bersifat umum.
Poin terakhir menyoroti keterbatasan pengetahuan manusia berdasarkan pemikiran Kurt Gödel, di mana AI saat ini mampu menghasilkan pembuktian matematika lebih cepat daripada kemampuan baca manusia.
Kondisi tersebut memicu tantangan filosofis baru mengenai hakikat pengetahuan yang kini tengah diteliti secara matematis oleh peraih Fields Medal, Michael Freedman.
Stella Christie juga merekomendasikan literatur bertajuk G\u00f6del, Escher, Bach karya Douglas Hofstadter untuk memahami hubungan mendalam antara filsafat, matematika, dan ilmu kognitif.