Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Kuliah Umum mengenai perkembangan dakwah Islam di Amerika Serikat di Masjid Hj. Sudalmiyah Rais UMS pada Kamis (21/5/2026). Dilansir dari Medcom, acara tersebut menghadirkan Imam Besar Islamic Center of New York, Muhammad Syamsi Ali, sebagai pembicara utama di hadapan mahasiswa dan civitas academica.
Pertemuan tersebut membahas berbagai dinamika kepemimpinan agama, tantangan islamofobia di dunia Barat, hingga perjalanan hidup pembicara. Syamsi Ali merupakan putra asli Sulawesi Selatan dari keluarga sederhana yang menempuh pendidikan di pesantren Muhammadiyah dan kini telah menetap hampir 30 tahun di New York.
“Saya asli kader Muhammadiyah. Pokoknya yang asli-asli saja. Kita tidak perlu menampilkan diri dalam kepalsuan,” ujar Syamsi Ali.
Masa kecil Syamsi Ali diwarnai kisah gemar berkelahi sebelum akhirnya dipindahkan oleh orang tuanya ke pesantren Muhammadiyah Darul Arqam Gombara Makassar. Setelah itu, ia mendapatkan beasiswa di Pakistan selama tujuh tahun, mengajar di Arab Saudi, dan mulai aktif berdakwah di Amerika Serikat sejak tahun 1996.
Meskipun menilai Amerika Serikat menghadapi krisis moral dan arogansi negara adidaya, Syamsi Ali mengakui sistem konstitusi setempat memberikan jaminan kebebasan beragama yang mendukung perkembangan dakwah.
“Kami memiliki kebebasan penuh untuk beragama dan membawa misi agama di bumi Amerika. Konstitusi mereka menjamin itu,” jelas Syamsi Ali.
Tekanan besar sempat dirasakan umat Islam pasca-peristiwa 11 September 2001 yang memicu islamofobia. Namun, momentum tersebut justru mendorong peningkatan ketertarikan masyarakat Amerika untuk mempelajari agama Islam.
“Islam berkembang unstoppable. Bisa ditantang, bisa dirintangi, tetapi tidak bisa dihentikan,” tegas Syamsi Ali.
Faktor pendukung kepopuleran Islam di Barat mencakup sifat ajaran yang logis, jaminan hukum, serta perilaku damai pemeluknya. Syamsi Ali mengingatkan pentingnya metode dakwah yang rasional agar mudah diterima oleh generasi muda Barat.
“Agama kita sangat logis dan rasional. Persoalannya kadang kita sendiri menampilkan Islam dengan cara yang tidak rasional,” kata Syamsi Ali.
Tantangan lain yang dihadapi meliputi sentimen politik, ketakutan sejarah Barat terhadap kebangkitan Islam, hingga kegagalan menampilkan nilai Islam yang murni. Pada sesi tanya jawab, Syamsi Ali juga merespons pertanyaan tentang perbedaan antara agama Yahudi dan gerakan politik Zionisme.
“Yahudi itu agama, sedangkan Israel adalah entitas politik yang dibangun di atas paham Zionisme,” ujarnya.
Ia menambahkan adanya komunitas Yahudi di New York yang menolak tindakan genosida di Gaza dan mendukung politisi pro-Palestina seperti Zohran Mamdani. Terkait politik elektoral Amerika Serikat, ia menyinggung ekspektasi komunitas muslim terhadap keterpilihan Donald Trump yang awalnya diharapkan bisa menghentikan konflik Gaza namun tidak terwujud.
Kendati demikian, Syamsi Ali melihat optimisme baru melalui kehadiran para politisi muda muslim di Amerika Serikat yang vokal menyuarakan isu Palestina. Pemaparan ditutup dengan penekanan pentingnya menjaga persatuan umat Islam di tengah perbedaan mazhab demi menghindari perpecahan yang berbahaya.