Taktik John Herdman di Laga Debut Timnas Indonesia Jadi Sorotan

Pengamat sepak bola, Gusnul Yakin, menyoroti penerapan taktik John Herdman pada laga debutnya bersama Timnas Indonesia di FIFA Series 2026.

Debut John Herdman sebagai pelatih Timnas Indonesia dalam laga perdana FIFA Series 2026 melawan Saint Kitts and Nevis pada Jumat (27/3/2026) malam WIB di SUGBK Jakarta, berakhir dengan kemenangan telak 4-0. Meskipun demikian, kinerja tim asuhannya, khususnya pada sepuluh menit pertama pertandingan, menjadi perhatian.

Gusnul Yakin, seorang pengamat sepak bola senior asal Malang, menilai bahwa taktik yang diterapkan oleh mantan pelatih Timnas Kanada tersebut secara umum dapat dijalankan. Namun, ia menyoroti kurangnya waktu persiapan yang hanya tiga hari. "John Herdman hanya punya waktu tiga hari menyiapkan dan mematangkan taktik. Saya kira itu sangat tak ideal. Apalagi dia pelatih baru dimana tiap pemain harus memahami taktik sang pelatih. Jadi wajar di awal permainan tampak kurang bagus," kata Gusnul Yakin, seperti dilansir dari Bola.

Dalam analisisnya, Gusnul Yakin secara khusus mengkritisi performa dua pemain, yaitu Jordi Amat yang diposisikan sebagai gelandang bertahan dan Kevin Diks di sayap kanan. Menurutnya, performa kedua pemain tersebut kurang optimal bukan karena kualitas individu, melainkan karena penempatan posisi tanpa dukungan yang memadai dari rekan setim.

Jordi Amat, yang dikenal memiliki insting bertahan kuat, terlihat kesulitan saat harus menghadapi tekanan dari tiga hingga empat pemain lawan dari Saint Kitts and Nevis. Situasi ini menyebabkan permainannya cenderung pasif, sehingga aliran bola ke depan kurang lancar. Gusnul Yakin menjelaskan bahwa sulit bagi Jordi Amat untuk berperan sebagai gelandang bertahan tunggal karena ia jarang bermain progresif akibat tekanan lawan dan jarak yang jauh dengan pemain depan.

Namun, kondisi lini tengah Timnas Indonesia membaik dan lebih cair setelah John Herdman melakukan perubahan taktik dengan menarik Calvin Verdonk ke area tengah. Dengan adanya Verdonk, Jordi Amat menjadi lebih berani untuk maju membantu serangan. Ia bahkan sempat menciptakan satu peluang berbahaya melalui sundulan kepala.

Performa Kevin Diks Sebagai Bek Sayap

Pemain lain yang menjadi sorotan Gusnul Yakin adalah Kevin Diks. Menurutnya, Kevin Diks kurang maksimal sebagai bek sayap kanan. Faktor kelelahan akibat jetlag dan adaptasi cuaca yang minim dinilai menjadi penyebab utama. "Kevin Diks bukan tipe pemain yang punya kecepatan dan agresivitas. Kebugaran fisik penyebab dia tak mampu untuk terus bergerak naik turun dengan intensitas tinggi. Dia punya satu peluang saat tendangannya menyamping gawang," ujar Gusnul Yakin.

Performa Kevin Diks mulai membaik setelah Ole Romeny diturunkan ke lini tengah. Penyesuaian posisi ini menunjukkan kejelian John Herdman dalam melihat kekurangan tim asuhannya. Dengan masuknya Ole Romeny, Kevin Diks jarang naik hingga sepertiga pertahanan lawan karena Ole Romeny mampu bergerak di segala arah, termasuk mengisi posisi sayap kanan saat serangan dibangun dari sektor tersebut.

Recommended