5 Tim Juara yang Dicibir karena Gaya Bermain

Kemenangan adalah segalanya, namun cara meraihnya bisa membuat tim juara dicibir karena gaya bermain yang dianggap membosankan.

Dalam sejarah sepak bola, beberapa tim juara justru mendapat cibiran karena gaya bermain mereka. Kemenangan memang menjadi tujuan utama, tetapi cara sebuah tim meraih kesuksesan terkadang membuat mereka menjadi "penjahat" di mata publik.

Arsenal saat ini memimpin klasemen Liga Inggris 2025/2026, tetapi taktik sederhana yang diterapkan manajer Mikel Arteta menuai kritik. Mereka bukan satu-satunya tim yang mengalami hal ini.

Berikut adalah lima tim juara yang banyak mendapat cibiran karena gaya bermain mereka:

1. Yunani di Euro 2004

Menurut jurnalis The Guardian, Barry Glendenning, Yunani adalah satu-satunya tim kuda hitam yang justru ingin dikalahkan oleh semua orang. Gaya bermain mereka yang mengandalkan man-marking ketat dan bola mati membuat mereka menyingkirkan lawan-lawan bertalenta di Euro 2004.

Setelah mengalahkan Spanyol di fase grup, tim asuhan Otto Rehhagel kemudian mengalahkan Prancis, Republik Cheska, dan Portugal untuk menjuarai turnamen tersebut. Semuanya dengan skor 1-0.

Euro 2004 dikenang sebagai turnamen ketika banyak bintang besar tampil di bawah performa terbaiknya. Publik semakin kesal ketika tim Yunani yang dianggap tidak menarik justru berhasil mengangkat trofi.

2. Spanyol di Euro 2012

Pada Euro 2012, banyak orang sudah mulai jenuh dengan dominasi Spanyol setelah mereka menjuarai Piala Eropa dan Piala Dunia. Kehilangan David Villa akibat cedera, pelatih Vicente del Bosque kerap menurunkan tim tanpa penyerang murni.

Beberapa pertandingan mereka terasa sulit ditonton, terutama kemenangan di perempat final melawan Prancis dan adu penalti atas Portugal. Gaya bermain tiki-taka mereka memecah opini. Sebagian penggemar menganggapnya luar biasa, sementara yang lain menilai gaya tersebut membosankan.

Spanyol akhirnya berhasil memenangi hati banyak penggemar lewat kemenangan telak 4-0 atas Italia di final. Namun, banyak orang juga merasa puas ketika dominasi mereka berakhir di Piala Dunia 2014.

3. Porto di Liga Champions 2003/2004

Penggemar Celtic sebenarnya sudah memperingatkan publik tentang Porto racikan Jose Mourinho. Tim asuhannya itu sebelumnya menaklukkan Celtic pada final Piala UEFA 2003 dengan permainan penuh kecerdikan. Tak ada yang menyangka juara Portugal itu kemudian menjuarai Liga Champions 2003/2004.

Skuad yang diperkuat pemain seperti Deco, Maniche, Costinha, Ricardo Carvalho, dan Vítor Baía memang bukan tim yang bermain kasar. Namun, mereka tetap merupakan tim dengan kualitas teknik tinggi, meski dengan pendekatan yang cenderung "gelap”.

4. Liverpool Era Gerard Houllier

Gerard Houllier membawa Liverpool meraih treble yang belum pernah terjadi sebelumnya pada 2001, dengan menambahkan trofi Piala UEFA 2001 ke dua piala domestik yang mereka menangi musim itu.

Namun, yang kurang dikenang adalah gaya permainan Liverpool saat itu. The Reds umumnya mengandalkan pertahanan rapat sambil berharap Michael Owen mampu mencuri satu atau dua gol di lini depan. Bahkan, BBC sempat berhasil meyakinkan UEFA untuk memundurkan leg pertama semifinal melawan Barcelona demi menyesuaikan jadwal dengan tayangan sinetron EastEnders, semuanya berujung pada hasil imbang 0-0 yang membosankan.

Houllier bahkan mencadangkan Robbie Fowler demi memainkan Emile Heskey untuk memaksimalkan peran Owen. Efektif? Ya. Namun taktik Liverpool yang satu dimensi akhirnya menjadi bumerang bagi Houllier.

Jamie Carragher bahkan sudah merasakan tanda-tandanya sejak awal. Dalam autobiografinya berjudul Carra, ia menulis: “Saya datang ke latihan pramusim (2002) dengan harapan melihat para pemain yang akan mengubah kami menjadi juara liga. Namun, saya pulang ke rumah pada malam yang sama dalam keadaan depresi.”

Houllier akhirnya meninggalkan Liverpool pada 2004 setelah klub gagal meraih gelar Premier League.

5. Arsenal Era George Graham

George Graham membuat Arsenal dikenal dengan julukan “Boring, Boring Arsenal”, sebuah ejekan yang muncul karena gaya bermain mereka yang dianggap membosankan saat meraih gelar liga pada 1989 dan 1991.

Musim 1989 memang paling diingat berkat gol dramatis Michael Thomas di Anfield yang memastikan gelar liga. Namun di balik momen ikonik itu, Arsenal juga terkenal dengan disiplin taktik mereka, terutama penggunaan jebakan offside yang sangat ketat serta kemenangan dengan skor minimal.

Pendekatan pragmatis itu kembali terlihat ketika Arsenal menghadapi Parma 1913 di final 1994 UEFA Cup Winners' Cup. Klub Italia tersebut tampak kebingungan menghadapi tim yang memiliki sedikit niat menyerang, tetapi justru mampu mengalahkan mereka.

Namun, setahun kemudian publik sepak bola Inggris bersorak ketika Arsenal kalah di final Cup Winners' Cup 1995. Saat itu, gelandang Nayim mencetak gol sensasional dengan lob dari dekat garis tengah yang mengecoh kiper David Seaman.

Recommended