Tottenham Hotspur menghadapi kekhawatiran degradasi setelah dipermalukan Crystal Palace di kandang sendiri. Dalam wawancara pasca-pertandingan, pelatih sementara Igor Tudor menolak menjawab pertanyaan tentang ancaman tersebut.
Spurs kalah 1-3 di Tottenham Hotspur Stadium pada Jumat (6-3-2026) dini hari WIB. Hasil ini membuat mereka hanya berjarak satu poin dari zona degradasi, dengan sembilan pertandingan tersisa musim ini. Kekhawatiran akan degradasi pertama sejak 1977 mulai menghantui para pendukung.
Pertandingan berubah setelah Micky van de Ven mendapat kartu merah di babak pertama. Sebelumnya, Dominic Solanke sempat membuat Tottenham unggul. Namun, Van de Ven menjatuhkan Ismaila Sarr di kotak penalti, yang berujung penalti bagi Palace. Sarr sukses menyamakan kedudukan.
Jørgen Strand Larsen membawa tim tamu berbalik unggul menjelang turun minum. Bahkan sebelum babak pertama usai, Sarr mencetak gol keduanya, memperlebar keunggulan Palace menjadi 3-1. Skor ini bertahan hingga akhir pertandingan, dengan Tottenham gagal bangkit di babak kedua.
Kekecewaan suporter terlihat jelas, dengan banyak yang meninggalkan stadion saat jeda babak pertama. Tekanan pada Tudor pun meningkat, dengan sebagian fans menyerukan pemecatannya meski baru 19 hari menangani tim.
Tudor menunjukkan respons tajam ketika ditanya tentang tekanan degradasi oleh TNT Sports.
"Kita harus berhenti membicarakan soal tekanan. Itu bukan topik yang perlu dibahas. Saya tidak akan berbicara lagi tentang tekanan," katanya.
Meskipun kalah, Tudor mengaku melihat sisi positif dari penampilan timnya.
"Setelah pertandingan ini saya justru lebih percaya pada mereka daripada sebelumnya. Mungkin terdengar aneh, tapi memang begitu," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa timnya masih memiliki energi dan semangat untuk bangkit.
"Ketika tim sudah lengkap dan saya memilih pemain yang tepat, saya percaya semuanya akan baik-baik saja. Saya melihat sesuatu, energi yang bagus, keinginan untuk berbuat, dan gairah."
"Saya juga melihat semangat bertarung itu ada. Sayangnya kartu merah mengubah jalannya pertandingan, tetapi masih ada sembilan laga tersisa. Kita harus berhenti membicarakan tekanan, itu bukan topik yang perlu dibahas," lanjutnya.
Pembicaraan Serius di Ruang Ganti
Dominic Solanke mengungkapkan bahwa para pemain mengadakan pembicaraan serius di ruang ganti setelah pertandingan.
"Kami baru saja melakukan pembicaraan besar. Kami tahu posisi kami saat ini jelas bukan tempat yang kami inginkan, jadi kami harus mencari cara untuk keluar dari situasi ini secepat mungkin," ungkapnya.
"Kami tahu ada banyak kesulitan, tetapi sekarang kami sudah tidak berada dalam posisi untuk membuat alasan lagi. Kami harus menyelesaikan pekerjaan di lapangan," tambahnya.
Solanke menekankan pentingnya membuktikan tekad untuk bangkit melalui performa di lapangan.
"Mudah mengatakan kami ingin menjadi lebih baik, tetapi kami ingin menjadi lebih baik di lapangan. Kami harus berjuang dan menyadari posisi kami saat ini."
"Kami tahu klub ini tidak terbiasa berada di situasi seperti ini. Jadi, kami harus memahaminya, dan sadar bahwa ini tidak akan mudah. Kami harus bertarung di setiap pertandingan, setiap menit, untuk memastikan kami bisa membaik," ujar striker berusia 28 tahun itu.