Upie Guava, sutradara film "Pelangi di Mars", memiliki tujuan mulia di balik pembuatan film bergenre sci-fi ini. Lebih dari sekadar hiburan, ia ingin membangkitkan kembali imajinasi anak-anak Indonesia tentang masa depan.
Menurut Upie, generasi sebelumnya tumbuh dengan literasi yang memicu mimpi besar. Karakter seperti Tintin dan Indiana Jones, serta astronaut penjelajah luar angkasa, menjadi inspirasi.
"Kita dulu membaca Tintin dan ingin menjadi wartawan yang menjelajahi dunia. Menonton Indiana Jones dan ingin jadi arkeolog. Banyak anak bermimpi menjadi ilmuwan atau astronaut," ujar Upie di Jakarta.
Ia mengamati perubahan pada generasi sekarang, di mana banyak anak bercita-cita menjadi YouTuber atau gamer. Upie menekankan bahwa bukan profesi itu yang menjadi masalah, melainkan alasan di baliknya.
Upie merasa anak-anak zaman sekarang memandang masa depan orang dewasa kurang menarik. "Saya merasa ada sesuatu yang hilang dalam literasi masa kecil kita," katanya.
Film "Pelangi di Mars" bercerita tentang Pelangi, seorang anak Indonesia yang lahir di Mars. Bersama robot-robot sahabatnya, Pelangi memulai petualangan mencari Zeolit Omega, mineral langka yang berpotensi menyelamatkan Bumi.
Upie berharap karakter Pelangi dapat menjadi referensi baru bagi generasi muda. Ia menegaskan, "Bangsa besar terbentuk dari mimpi anak-anaknya."
Upie menyinggung tradisi cerita sci-fi dan fantasi yang pernah kuat di Indonesia melalui komik era 1960-1980-an, namun kini memudar. Sementara negara lain terus mengembangkan literasi serupa, seperti film luar angkasa Amerika dan karya Gundam dari Jepang.
Melalui "Pelangi di Mars", Upie ingin menghidupkan kembali cerita futuristik dengan tokoh utama seorang anak Indonesia. Film ini diputar secara terbatas sebelum rilis resmi pada tanggal 18, setelah lima tahun proses produksi.
Bagi Upie, momen paling membahagiakan adalah ketika melihat anak-anak menonton film tersebut dan memunculkan mimpi-mimpi mereka.
"Saat itu saya merasa semua kerja keras ini benar-benar punya arti," ujarnya.