Wamendag Soroti Ketegangan Geopolitik Ancam Stabilitas Perdagangan

Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti menyoroti potensi gangguan stabilitas perdagangan global akibat ketegangan geopolitik.

Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti, menyampaikan kekhawatiran atas meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kondisi ini berpotensi mengganggu stabilitas perdagangan global dengan berdampak pada jalur perdagangan strategis.

Potensi penutupan Selat Hormuz, sebagai jalur utama distribusi energi dunia, dapat memengaruhi rantai pasok dan nilai perdagangan internasional.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam rangkaian ASEAN Economic Ministers (AEM) Retreat and Related Meetings 2026 yang berlangsung di Manila, Filipina, pada 11-13 Maret 2026.

Roro menekankan pentingnya negara-negara ASEAN memperkuat kerja sama perdagangan dan solidaritas kawasan. Tujuannya adalah menjaga stabilitas ekonomi serta memastikan keberlanjutan integrasi ekonomi regional.

Menurutnya, ASEAN memiliki posisi strategis dalam menjaga keterbukaan sistem perdagangan dan memperkuat ketahanan ekonomi kawasan.

"Di tengah dinamika geopolitik dan fragmentasi geoekonomi global, ASEAN perlu tetap bersatu dan memperkuat kolaborasi. Pendekatan yang mengedepankan keterbukaan, integrasi ekonomi, serta kerja sama regional menjadi kunci untuk menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi kawasan," ujar Roro, dalam keterangannya, dikutip Rabu (18/3/2026).

Roro juga mendukung konsep resilience without retreat, yaitu upaya memperkuat ketahanan ekonomi kawasan tanpa mengurangi komitmen terhadap keterbukaan perdagangan dan integrasi ekonomi. Pendekatan ini dinilai penting agar ASEAN tetap menjadi kawasan yang kompetitif, inklusif, dan mampu menghadapi disrupsi global.

Kerja sama antarnegara ASEAN, lanjut Roro, perlu diarahkan pada penguatan sektor-sektor strategis kawasan. Sektor tersebut meliputi ketahanan pangan dan energi, teknologi digital, serta semikonduktor.

Ia menjelaskan, alih-alih bersaing dalam memberikan insentif antarnegara, ASEAN justru perlu memperkuat pembagian peran dan kolaborasi regional dalam mengembangkan sektor-sektor strategis tersebut. Dengan begitu, dapat dibangun rantai pasok kawasan yang lebih kuat dan berdaya saing.

Dalam kesempatan tersebut, Roro juga menyampaikan bahwa Indonesia, di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto, memberikan perhatian besar terhadap penguatan ketahanan pangan dan energi sebagai bagian dari strategi menghadapi dinamika global.

Indonesia saat ini mengalami surplus produksi beras, membuka peluang untuk memperkuat kontribusi terhadap stabilitas pangan kawasan. Pemerintah Indonesia juga tengah melakukan penjajakan ekspor beras ke sejumlah negara mitra di kawasan.

"Indonesia saat ini memiliki kapasitas untuk berkontribusi dalam menjaga stabilitas pangan kawasan. Kami sedang menjajaki peluang ekspor beras ke beberapa negara di ASEAN," ujar Roro.

Di tengah ketidakpastian geopolitik global yang berpotensi mengganggu pasokan energi dunia, Indonesia menyatakan kesiapan untuk menjadi bagian dari solusi dalam menjaga ketahanan energi kawasan.

"Di tengah situasi geopolitik yang tidak menentu, negara-negara ASEAN tentu perlu memastikan dari mana pasokan energi dapat diperoleh secara stabil. Indonesia memiliki sumber daya yang dapat berkontribusi untuk mendukung ketahanan energi kawasan," tambahnya.

Roro mendorong negara ASEAN untuk memperluas kemitraan ekonomi dengan berbagai mitra global. Hal ini bertujuan mengurangi risiko konsentrasi pasar serta memperkuat posisi kawasan dalam sistem perdagangan internasional.

Menurutnya, ASEAN memiliki peran penting sebagai jangkar stabilitas ekonomi di kawasan Indo-Pasifik. Oleh karena itu, menjaga persatuan dan koordinasi kebijakan antarnegara anggota menjadi faktor kunci untuk menghadapi ketidakpastian global.

"Negara-negara di ASEAN harus terus menunjukkan bahwa kerja sama regional adalah kekuatan utama kita. Dengan tetap bersatu, ASEAN dapat menghadapi tantangan global sekaligus memanfaatkan peluang ekonomi yang ada," pungkas Roro.

Recommended