Tim pabrikan Yamaha didesak untuk segera memaksimalkan potensi tenaga mesin V4 pada motor YZR-M1 guna mengatasi ketertinggalan kecepatan di lintasan balap MotoGP pada musim 2026. Desakan ini muncul menyusul performa motor yang dinilai masih tertinggal jauh dari kompetitor lainnya saat melintasi sektor lurus.
Dilansir dari Bola, pengamat MotoGP Neil Hodgson mengungkapkan bahwa Yamaha saat ini belum mengoperasikan mesin V4 mereka dengan tenaga penuh demi menjaga keandalan perangkat. Langkah ini diambil agar pembalap mereka dapat menyelesaikan balapan dan mengumpulkan data teknis sebanyak mungkin.
Data menunjukkan bahwa motor Yamaha saat ini lebih lambat sekitar 5 km/jam hingga 10 km/jam dibandingkan dengan pabrikan lain di grid MotoGP. Hal ini menyebabkan duo pembalap mereka, Alex Rins dan Fabio Quartararo, kesulitan bersaing di barisan depan selama tiga seri awal musim ini.
"Saya benar-benar berpikir demikian. Bukankah lebih baik mereka merusak mesin saja? Saat ini, mesin V4 mereka lebih lambat daripada mesin empat silinder segaris," ujar Neil Hodgson, Mantan Pembalap, dalam podcast Gas it Out.
Hodgson menambahkan bahwa risiko kerusakan mesin atau penalti start dari pit lane akibat melebihi kuota 10 mesin per musim tidak akan memperburuk posisi Yamaha. Menurutnya, Yamaha sudah berada di posisi belakang sehingga mengambil risiko teknis demi tenaga tambahan merupakan langkah yang masuk akal.
Kondisi internal tim semakin memanas dengan munculnya kabar mengenai perombakan komposisi pembalap untuk musim 2027. Fabio Quartararo dirumorkan akan pindah ke Honda, sementara posisi Alex Rins terancam digantikan oleh Jorge Martin atau Ai Ogura.
Yamaha sendiri mengakui bahwa proses pengembangan mesin V4 yang menggantikan konfigurasi empat silinder segaris merupakan proyek jangka panjang. Hingga seri Amerika Serikat di COTA beberapa waktu lalu, pengembangan ini masih dalam tahap pengujian ketahanan guna menghindari kegagalan finis atau DNF.