Nama Alex Ferguson identik dengan kesuksesan Manchester United dan sepak bola dunia. Namun, di balik gemilang kariernya, Ferguson mengakui peran krusial Sir Bobby Charlton dalam menyelamatkan posisinya di Old Trafford.
Sebelum era dominasi di Inggris, Ferguson telah menunjukkan kapasitasnya bersama St Mirren dan Aberdeen. Akan tetapi, bersama MU-lah namanya benar-benar melegenda, dengan torehan 13 gelar Liga Inggris, dua trofi Liga Champions, lima Piala FA, dan berbagai gelar lainnya.
Meskipun demikian, awal karier Ferguson di MU tidak berjalan mulus. Ditunjuk pada 1986, ia baru meraih trofi pertama pada 1990 melalui Piala FA. Bahkan, musim 1989/1990 menjadi titik nadir ketika posisinya terancam pemecatan. Kemenangan tipis 1-0 atas Nottingham Forest menjadi momen penentu yang meredakan tekanan.
Di tengah tekanan tersebut, Bobby Charlton hadir sebagai sosok penting. Meskipun membantah anggapan bahwa Ferguson hanya selangkah lagi dari pemecatan, Charlton dikenal konsisten memberikan dukungan.
Ferguson tak menampik hal ini. Ia mengakui kariernya di MU sangat dipengaruhi oleh kepercayaan Charlton. Dalam sebuah kesempatan pada 2016, Ferguson mengungkapkan betapa besar arti dukungan Charlton di awal kariernya.
"Saya berutang hidup saya di sini kepada Bobby. Dia selalu percaya kepada saya dan, selain sebagai legenda terbesar di klub ini dan pemain terhebat, merupakan sebuah kehormatan besar bisa mengenalnya," ujar Ferguson.
Persahabatan yang Berarti
Ferguson menegaskan bahwa perjalanannya di MU dipenuhi momen berharga, namun hubungannya dengan Charlton menjadi salah satu yang paling berarti.
"Masa saya di United dipenuhi semua momen hebat, tetapi tidak ada yang lebih berarti daripada persahabatan saya dengan Bobby dan apa yang telah dia lakukan untuk saya," lanjutnya.
Ferguson menyoroti karakter Charlton sebagai anutan.
"Kelebihan besar Bobby, dan ini menjadi contoh bagi siapa pun yang sukses, adalah bagaimana dia tetap rendah hati sepanjang hidupnya," ungkap Ferguson.
Charlton mengaku tak pernah kehilangan keyakinan pada Ferguson, bahkan saat tim mengalami kekalahan.
"Tidak pernah ada kepahitan terhadap Alex setelah kekalahan. Yang ada justru keyakinan bahwa kesuksesan akan datang pada waktunya," kata Charlton.
Memberi Waktu kepada Pelatih
Charlton menyinggung kebiasaan klub yang terlalu cepat memecat pelatih sebagai penyebab masalah.
"Banyak klub mengalami kesulitan karena terlalu cepat memecat pelatih. Kami tidak akan jatuh ke dalam perangkap itu."
Bahkan, menurutnya, hasil melawan Nottingham Forest tidak akan mengubah arah kebijakan klub.
"Bahkan jika kami kalah dari Nottingham Forest, tidak ada yang akan berubah. Sama sekali tidak. Orang-orang di klub tahu arah yang kami tuju dan seperti apa masa depan yang akan datang," jelas Charlton.
Kisah Ferguson di MU menjadi contoh pentingnya memberi waktu kepada pelatih, terutama saat membangun tim. Dukungan Charlton menjadi faktor krusial di balik kesuksesan tersebut.