Perjalanan Alfath Qornain Isnan Yuliadi menuju gerbang pendidikan tinggi penuh liku. Sempat bekerja sebagai tukang bangunan demi mengumpulkan biaya, kini ia mencetak sejarah sebagai mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan belasan prestasi nasional dan internasional. Alfath menjadi satu-satunya siswa dari sekolah menengah kejuruan (SMK) asalnya yang berhasil lolos ke UGM, sekaligus menjadi individu pertama di keluarganya yang menempuh pendidikan di bangku kuliah, seperti dilansir dari Medcom.
Mahasiswa program studi D4 Teknologi Rekayasa Pelaksanaan Bangunan Sipil Sekolah Vokasi UGM angkatan 2022 ini berasal dari Klaten. Keputusannya untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi awalnya diragukan orang tua yang berharap ia bisa langsung bekerja setelah lulus SMK. Namun, Alfath memiliki pandangan lain.
Alfath menjelaskan bahwa kemungkinan berkembang akan lebih sulit jika ia hanya mengandalkan ijazah SMK. "Saya bilang ke ayah, kalau saya mentok di SMK saja, kemungkinan berkembangnya lebih sulit. Saya ingin berkembang lebih jauh, saya ingin kuliah," kenangnya.
Meskipun orang tuanya ragu karena pertimbangan ekonomi keluarga, Alfath bertekad bulat. Sebagai anak kedua dari enam bersaudara, ia sadar akan dampak keputusannya. Namun, keyakinannya perlahan meluluhkan hati orang tuanya. Ia bahkan membiayai sendiri langkah awalnya menuju kampus impian.
Sejak kelas dua SMK, Alfath bekerja di proyek pembangunan bersama ayahnya. Berbagai pekerjaan berat, mulai dari menggali fondasi hingga mengangkat material, ia lakoni. Upah yang diterima sekitar Rp50 ribu per hari ia kumpulkan untuk biaya pendaftaran Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK).
"Saya enggak enak minta ke Bapak. Jadi saya kerja, sebagian ditabung buat UTBK, sebagian buat kebutuhan sekolah," ujarnya.
Selain bekerja, Alfath juga menyisihkan waktu untuk belajar di malam hari. Menjelang ujian, ia mengatur jadwal empat hari bekerja dan tiga hari penuh di akhir pekan untuk fokus belajar. Perjuangannya sempat diuji ketika ia mengalami kecelakaan kerja, terjatuh dari lantai dua proyek bangunan, namun insiden tersebut justru menguatkan tekadnya untuk tidak menyerah.
Perubahan Besar di Bangku Kuliah
Pengumuman hasil seleksi UTBK menjadi titik balik dalam hidup Alfath. Ia membuka hasil seleksi sendirian di kamar dan saat dinyatakan lolos ke UGM, ia langsung memeluk ibunya. Setelah itu, Alfath bergegas menemui kakeknya, yang menjadi sosok paling diingatnya. "Saya ingat banget, saya lari nyamperin kakek saya, langsung saya peluk dan bilang, 'Saya jadi kuliah'," kenang Alfath.
Kebahagiaan itu bukan hanya untuknya. Sang kakek sangat bangga, karena Alfath adalah satu-satunya cucu yang berhasil menempuh pendidikan di bangku kuliah. Harapannya, Alfath dapat menjadi inspirasi dan pembuka jalan bagi anggota keluarga lainnya untuk mengejar pendidikan tinggi.
Kehidupan kampus di UGM membawa perubahan signifikan bagi Alfath. Dulu, ia dikenal sebagai pribadi yang introvert dan hanya fokus pada akademik. Namun, kini ia aktif berorganisasi, bahkan dipercaya memimpin Badan Semi Otonom (BSO) di Sekolah Vokasi UGM serta berpartisipasi dalam berbagai kompetisi.
"Saya dulu bahkan diajak lomba enggak mau. Tapi di UGM saya sadar itu penting, dan mulai aktif sejak semester tiga," kata Alfath. Hingga saat ini, ia telah memenangkan 15 perlombaan di tingkat nasional dan internasional, termasuk menjadi finalis kompetisi di Nanyang Technological University Singapura. Prestasinya ini mengantarkannya meraih penghargaan Insan Berprestasi UGM pada tahun 2025.
Orang tua Alfath merasa sangat senang dan bangga. "Orang tua saya senang banget. Mereka enggak menyangka anaknya bisa sampai dapat penghargaan dari UGM," ucapnya. Kisah Alfath membuktikan bahwa latar belakang tidak menjadi penghalang untuk meraih mimpi. Ia tidak hanya mengangkat dirinya sendiri, tetapi juga membuka jalan bagi generasi setelahnya.