Daihatsu Indonesia Masters 2026 menjadi ajang unjuk gigi bagi para pemain muda potensial dari berbagai negara. Ajang level Super 500 ini menjadi saksi ledakan potensi para atlet Gen Z.
Alwi Farhan, jagoan tunggal putra tuan rumah, berhasil mencuri perhatian dengan menjuarai Daihatsu Indonesia Masters 2026. Penampilannya di babak final akan terus diingat.
Pebulu tangkis asal Thailand, Panitchaphon Teeraratsakul, dibuat tak berdaya oleh Alwi Farhan. Alwi hanya memerlukan 25 menit untuk mengalahkan Panitchaphon dengan skor mencolok 21-5 dan 21-6.
Gelar juara di Daihatsu Indonesia Masters 2026 tidak membuat Alwi Farhan merasa puas. Alwi yang masih berusia 20 tahun, memiliki ambisi untuk terus mendaki level yang lebih tinggi. Ia ingin meraih gelar bergengsi lainnya dan meraih hasil maksimal di Olimpiade.
"Pastinya saya akan kejar di Super 750, Super 1000, gelar-gelar berngensi seperti All England, Kejuaraan Dunia, Asian Games, Olimpiade. Target jangka pendeknya, maksudnya dibidik dari sekarang bisa membidik untuk bermain di Olimpiade, dan semoga peak-nya di Olimpiade nanti," ujar Alwi Farhan.
Lahir di Surakarta pada 12 Mei 2005, bulutangkis bukan cinta pertama Alwi Farhan. Saat kecil, ia lebih tertarik pada sepak bola. Bahkan, Alwi sempat bergabung dengan SSB Ksatria Solo dan berlatih di Lapangan Kadipolo.
Namun, pada usia 10 tahun, Alwi Farhan harus memilih dan ia pun menjatuhkan pilihan pada bulutangkis. Di usianya yang baru 20 tahun, Alwi telah mengoleksi banyak gelar bergengsi, termasuk gelar juara dunia level junior dan Daihatsu Indonesia Masters 2026.
Selain Alwi Farhan, ada juga ganda putra Raymond Indra/Nikolaus Joaquin yang bersinar di Daihatsu Indonesia Masters 2026. Sayangnya, mereka harus mengakui keunggulan pasangan Malaysia, Goh Sze Fei/Nur Izzuddin, di babak final.
Meski kalah, Raymond/Joaquin tidak patah semangat dan ingin terus mengejar gelar-gelar lainnya. "Menjadi pelajaran bagi kami agar lebih baik lagi," tegas Joaquin.
Keberhasilan Alwi Farhan dan Raymond Indra/Nikolaus Joaquin memberikan harapan baru bagi bulutangkis Indonesia. Publik telah lama merindukan medali emas dari nomor tunggal putra dan ganda putra di Olimpiade.
Terakhir kali Indonesia meraih medali emas di ganda putra adalah melalui Markis Kido/Hendra Setiawan di Olimpiade Beijing 2008. Sementara itu, Taufik Hidayat menjadi tunggal putra terakhir yang meraih medali emas di Olimpiade Athena 2004.
Achmad Budiharto, selaku ketua panitia Daihatsu Indonesia Masters 2026, mengatakan bahwa turnamen ini bertujuan untuk mengembalikan antusiasme masyarakat terhadap bulutangkis dan menciptakan pesta rakyat. Berbagai perubahan dilakukan, seperti screening tiket yang hanya dilakukan sebelum memasuki tribune Istore Senayan, banyaknya stan kuliner yang terjangkau, dan adanya ruang bermain anak.
“Kali ini di luar dugaan, begitu banyak partisipasi, dukungan, masukan, serta pemberitaan yang sangat positif. Hal ini membuat kami melihat atmosfer kebangkitan bulu tangkis Indonesia mulai terbentuk. Ini menjadi harapan kami sejak awal, bahwa event ini menjadi langkah awal untuk membangkitkan kembali euforia bulu tangkis Indonesia,” ujar Achmad Budiharto.