Aprilia berhasil menunjukkan dominasinya di awal musim MotoGP 2026, terutama melalui pembalapnya Marco Bezzecchi. Keunggulan ini memicu perdebatan mengenai faktor di balik performa impresif tersebut, termasuk spekulasi penggunaan ban khusus dari Michelin, seperti diberitakan oleh Bola.
Marco Bezzecchi dari Aprilia Racing berhasil menutup MotoGP Thailand 2026 di Sirkuit Buriram dengan performa luar biasa pada 1 Maret 2026. Setelah menghadapi berbagai tantangan di hari Sabtu, Bezzecchi bangkit dan mendominasi balapan utama.
Pencapaian ini menorehkan sejarah bagi Aprilia, menjadikannya pembalap pertama dari pabrikan tersebut yang memenangkan tiga Grand Prix kelas utama secara beruntun. Kemenangan ini juga mengukuhkan posisinya di klasemen sementara MotoGP, menempati posisi kedua.
Piero Taramasso, bos Michelin MotoGP, dengan tegas membantah klaim bahwa dominasi Aprilia dipengaruhi oleh konstruksi ban alternatif. "Saya selalu berpikir bukan itu masalahnya [ban yang lebih kaku], karena kami telah menawarkan casing ban paling kaku selama beberapa musim sekarang," ujar Taramasso kepada Motorsport edisi Italia.
Menurutnya, semua tim sudah mengetahui cara menafsirkan dan mengatur setelan ban. Para pembalap pun sudah terbiasa dengan karakteristik ban tersebut. "Saat ini, Aprilia benar-benar memiliki sesuatu yang lebih dalam hal motor," tambah Taramasso, dikutip dari Tribunnews.
Kemenangan Beruntun dan Adaptasi Ban
Michelin memang menggunakan konstruksi ban yang lebih kaku pada putaran di Buriram dan Goiania pada awal musim 2026, mengingat suhu yang sangat panas dan karakter sirkuit yang cepat. Di kedua seri tersebut, Aprilia berhasil mendominasi.
Bezzecchi meraih kemenangan meyakinkan di Thailand, kemudian mengulanginya di Brasil dengan finis 1-2 bersama Jorge Martin. Kemampuan motor RS-GP dalam memaksimalkan performa ban yang lebih kaku ini sempat disorot sebagai alasan dominasi Aprilia atas tim lain.
Namun, teori ini mulai runtuh saat balapan berpindah ke Circuit of the Americas (COTA) di Amerika Serikat. Meskipun MotoGP kembali menggunakan ban standar, Aprilia tetap tampil dominan dengan kemenangan Sprint perdana dan finis 1-2 di balapan utama.
Fakta ini semakin membuktikan bahwa keunggulan Aprilia bersumber dari performa motor RS-GP mereka, bukan semata-mata faktor eksternal seperti ban. Ini menjadi sinyal kuat bagi para rival, terutama Ducati, yang masih berjuang menemukan konsistensi.
Tantangan dan Evaluasi
Bezzecchi sendiri mengakui bahwa dia terlalu memaksakan diri pada hari Sabtu di Buriram, yang menyebabkan beberapa kecelakaan. "Mungkin saya tidak cukup berpikir, dan kesalahan kecil seperti itu sedikit mengurangi kepercayaan diri," ungkapnya.
Meski demikian, pembalap berusia 27 tahun itu berhasil menebus kesalahannya pada balapan hari Minggu dengan tampil dominan sejak awal hingga garis finis. Tantangan terbesarnya adalah menjaga keausan ban tetap terkendali.
Dominasi Aprilia di Thailand begitu kentara, dengan Bezzecchi memimpin empat pembalap Aprilia yang finis di lima besar. Hanya Pedro Acosta dari KTM yang mencegah sapu bersih. Meskipun demikian, Bezzecchi enggan larut dalam euforia.