Keputusan Mikel Arteta menurunkan Kepa Arrizabalaga pada final Carabao Cup di Wembley menjadi perhatian utama setelah Arsenal dikalahkan Manchester City (Man City) dengan skor 0-2 pada Senin (23/03/2026) dini hari WIB.
Pertandingan di Wembley tersebut diwarnai kesalahan fatal Kepa yang menjadi titik balik. Kiper asal Spanyol itu gagal mengantisipasi umpan silang Rayan Cherki, yang kemudian dimanfaatkan Nico O'Reilly untuk membuka skor bagi City. Selang empat menit, O'Reilly kembali mencetak gol dan memastikan kemenangan bagi tim asuhan Pep Guardiola.
Keputusan Arteta semakin disorot karena ia tidak menurunkan kiper utama, David Raya, yang tampil mengesankan sepanjang musim dengan catatan clean sheet terbanyak di Premier League.
Sebaliknya, kiper cadangan City, James Trafford, justru tampil gemilang. Ia melakukan penyelamatan penting, termasuk triple save untuk menggagalkan peluang dari Kai Havertz dan Bukayo Saka, serta menutup laga dengan clean sheet.
Kritik pun bermunculan. Chris Sutton, mantan striker Blackburn Rovers, mempertanyakan keputusan memainkan kiper pelapis di partai final. "Anda ingin memenangkan trofi, jadi kenapa tidak memainkan yang terbaik?” ujar Chris Sutton.
Arteta berpegang pada pendiriannya. Menurutnya, keputusan memainkan Kepa merupakan bentuk keadilan, mengingat kontribusinya sejak awal kompetisi. "Saya harus melakukan apa yang menurut saya benar dan adil," kata Arteta.
"Kepa sudah bermain di semua pertandingan Carabao Cup, akan sangat tidak adil jika saya menggantinya di final," imbuh juru taktik asal Spanyol itu.
Sentimen Arteta Dikritik
Catatan buruk Kepa di ajang ini berlanjut. Mantan kiper Chelsea itu kini telah kalah di tiga final Carabao Cup yang pernah ia jalani.
Julien Laurens, pengamat sepak bola Eropa, menilai keputusan Arteta terlalu mengedepankan sentimen. "Di final seperti ini tidak ada tempat untuk sentimentalitas. Harus memainkan tim terbaik,” tegasnya.
Sementara itu, Joe Hart, mantan kiper Manchester City dan timnas Inggris, melihat situasi ini dari sudut pandang berbeda. "Jangan pernah merasa kasihan pada kiper. Itu adalah risiko profesinya," ujarnya.
"Sebagian besar pertandingan dia tampil baik, tapi momen besar seperti ini yang akan selalu diingat," Joe Hart menambahkan.
Kekalahan ini membuat Arsenal kembali gagal meraih trofi sejak terakhir kali juara pada 2020, sekaligus menyisakan pelajaran penting bagi Arteta dalam mengambil keputusan krusial di laga final.