Ketua Umum Komunitas Mobil Elektrik Indonesia (KOLEKSI), Arwani Hidayat, memaparkan perbandingan biaya operasional kendaraan listrik yang diklaim jauh lebih ekonomis daripada mobil konvensional di Jakarta pada Kamis (16/4/2026).
Data yang dihimpun menunjukkan bahwa pengguna kendaraan listrik (EV) rata-rata hanya menghabiskan Rp250 per kilometer untuk penggunaan di dalam kota. Sementara itu, operasional luar kota menghabiskan biaya sekitar Rp350 per kilometer bagi mobil dengan tenaga besar.
Perbandingan tersebut menunjukkan selisih yang signifikan jika disandingkan dengan kendaraan berbahan bakar fosil. Dilansir dari Medcom, operasional mobil konvensional di dalam kota mencapai Rp1.000 per kilometer dan sekitar Rp1.200 per kilometer untuk perjalanan luar kota.
"Untuk konsumsi dalam kota, rata-rata pengguna EV menghabiskan sekitar Rp250 per km dan luar kota sekitar Rp350 per km untuk EV yang memiliki power lumayan besar," kata Arwani Hidayat, Ketua Umum KOLEKSI.
Sektor infrastruktur penunjang juga dilaporkan terus mengalami perluasan di seluruh wilayah Indonesia. Hingga tahun 2025, PT PLN (Persero) telah mengoperasikan 4.655 Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang tersebar di 3.007 lokasi.
Selain fasilitas umum, layanan pengisian daya di rumah atau Home Charging Services telah menjangkau 70.250 pelanggan hingga pengujung 2025. Fasilitas ini mempermudah pemilik EV melakukan pengisian daya secara mandiri tanpa harus ke stasiun pengisian.
Meskipun pertumbuhan sempat melambat di awal 2026 akibat kekhawatiran pencabutan insentif pemerintah, tren penggunaan EV diprediksi kembali meningkat pada kuartal kedua tahun ini. Hal tersebut dipicu oleh dinamika harga bahan bakar minyak dunia.
Konflik geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat berpotensi memicu lonjakan harga BBM global. Situasi ini dinilai akan mendorong masyarakat beralih ke kendaraan listrik sebagai alternatif transportasi yang lebih ekonomis dalam jangka panjang.