British Council menyoroti pentingnya keterampilan bagi kaum marginal dan penyandang disabilitas agar berhasil dalam pendidikan dan dunia kerja. Hasil riset menunjukkan bahasa Inggris menjadi keterampilan utama yang dibutuhkan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kaum marginal adalah kelompok masyarakat yang terpinggirkan secara sosial, menghadapi keterbatasan akses dalam pendidikan, pekerjaan, dan pengembangan keterampilan.
British Council melakukan riset mendalam tentang kebutuhan pemuda marginal dan penyandang disabilitas di Indonesia. Buyung Sudrajat, Head of English and School Education East Asia British Council, menyampaikan hasil riset ini dalam Dissemination Workshop di Bandung.
Buyung menjelaskan bahwa tiga keterampilan utama yang dibutuhkan adalah: bahasa Inggris, keterampilan digital, dan ketahanan di lingkungan kerja. Fokus pada bahasa Inggris sejalan dengan mandat British Council.
“Pertama adalah bahasa Inggris, kedua digital skills, ketiga resilience in working place, ketahanan di lingkungan kerja. Nah ini kami berfokus pada bahasa Inggris karena mandat, salah satunya berfokus pada bahasa Inggris adalah karena mandat kami untuk mengembangkan bahasa Inggris,” ujar Buyung kepada Medcom.id, Kamis, 5 Maret 2026.
British Council, sebagai organisasi yang ditunjuk pemerintah Inggris, bertujuan menghubungkan masyarakat dunia melalui pendidikan, bahasa Inggris, seni, dan budaya. Mereka bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah dan ahli.
Buyung menekankan bahwa bahasa Inggris adalah alat penting untuk memberdayakan kaum marginal agar terintegrasi secara inklusif. Akses terhadap pembelajaran bahasa Inggris masih belum merata di Indonesia, terutama bagi kelompok marginal.
Menurut Buyung, data menunjukkan ada 66 juta pemuda usia produktif di Indonesia. Bahasa Inggris menjadi sarana krusial bagi mereka untuk berintegrasi secara inklusif dalam masyarakat global.
Riset ini menggunakan pendekatan berbasis data lapangan, dengan menghimpun masukan langsung dari pemuda marginal. Tujuannya adalah merancang program peningkatan kapasitas yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
British Council berharap hasil riset ini menjadi dasar kuat untuk mendesain program bahasa Inggris yang inklusif dan kontekstual bagi pemuda marginal di Indonesia.
Buyung menambahkan, riset ini dilakukan agar program yang dirancang benar-benar menjawab kebutuhan teman-teman marginal dan penyandang disabilitas, bukan berdasarkan asumsi pihak luar.