Legenda Manchester United, Bryan Robson, mengambil peran aktif dalam memberikan edukasi kepada para pemain akademi mengenai potensi risiko dan bahaya yang muncul seiring dengan kekayaan di dunia sepak bola profesional. Inisiatif ini didukung oleh Michael Carrick, sebagai bagian dari upaya klub untuk membekali generasi muda di Carrington.
Robson, yang mencatatkan 461 penampilan untuk Manchester United antara tahun 1981 hingga 1994, tetap menjalin hubungan erat dengan klub sebagai duta. Keterlibatannya saat ini bertujuan untuk membentuk mentalitas dan pemahaman finansial para penerus di klub tersebut. Pengalamannya yang luas, baik sebagai pemain maupun manajer, kini digunakan untuk membantu orang lain menghindari kesalahan serupa yang pernah ia alami.
Seperti banyak pesepak bola, Bryan Robson pernah mengalami kerugian finansial akibat investasi yang gagal. Ia pernah kehilangan 250 ribu poundsterling dalam proyek hotel yang tidak terealisasi, serta 550 ribu poundsterling dalam skema investasi film yang menjanjikan potongan pajak, seperti diberitakan oleh Bola. Kisah-kisah semacam ini cukup sering terjadi di sepak bola profesional, terutama menimpa pemain muda yang rentan terhadap pengaruh negatif.
Melihat fenomena ini, Robson bekerja sama dengan mantan pemain MU, Simon Andrews, untuk memberikan edukasi kepada para pemain muda. “Bagi sebagian orang, kontrak pertama mereka di MU mungkin adalah yang terbaik yang mereka dapatkan, tetapi mereka kemudian mencoba hidup di atas kemampuan saat mereka turun divisi ke klub lain dengan gaji lebih rendah. Anak-anak itu rentan,” ujar Robson kepada Daily Mail, seperti dikutip dari Bola.
Ia melanjutkan, “Momen mereka menandatangani kontrak profesional pertama, pesepak bola menjadi target. Mereka adalah sapi perahan untuk orang-orang yang menumpang, penipu, dan oportunis. Itu jahat, mereka tahu apa yang mereka lakukan.” Robson merasa perlu untuk bertindak, “Saya telah melihatnya berkali-kali. Saya pernah tertipu dan saya berharap tidak, itu tidak benar dan saya harus melakukan sesuatu tentangnya.”
Mengantisipasi Penipuan dan Dampak Psikologis
Robson dan Andrews telah berkomunikasi dengan tim U-18, U-21, tim wanita, serta staf kesejahteraan pemain MU, menyampaikan pesan penting ini. Hal ini dilakukan mengingat adanya kasus penipuan yang menimpa para legenda sepak bola di masa lalu.
Sebagai contoh, pada tahun 2016, The Mirror melaporkan skema Ponzi yang melibatkan mantan striker Tottenham Robbie Keane, mantan gelandang Hull Jimmy Bullard, dan mantan penyerang Aston Villa Gabby Agbonlahor. Diperkirakan sekitar 100 pemain kehilangan total dana sekitar 30 juta poundsterling akibat penipuan tersebut.
Kemudian pada tahun 2018, muncul kabar bahwa legenda Manchester United, Wayne Rooney dan Rio Ferdinand, termasuk di antara mereka yang kehilangan gabungan 25 juta poundsterling dalam skema serupa. Robson menyoroti keengganan para pemain untuk terbuka saat mereka merasa ditipu, “Masalahnya adalah pesepak bola sangat bangga. Banyak dari itu karena citra yang ingin kamu tunjukkan sebagai pemain top, tetapi sebagai konsekuensinya, mereka sangat enggan untuk membuka diri saat mereka merasa telah ditipu uangnya.”
“Mereka menyimpannya sendiri daripada segera mencari bantuan dan kemudian masuk dalam spiral ke bawah mengejar uang yang tidak bisa mereka dapatkan kembali. Beberapa di antaranya bahkan berakhir memikirkan bunuh diri, ini harus berhenti. Kami mendengar tentang kampanye seperti V11, mantan pemain yang kehilangan jutaan dalam skema properti yang curang. Mereka menghabiskan jutaan lebih untuk mencoba mengembalikan apa yang telah hilang,” tutup Robson.