Eskalasi Timur Tengah Ancam Bursa Asia dan Harga Minyak

Ancaman Iran terhadap infrastruktur energi picu kekhawatiran dan jatuhnya bursa Asia. Harga minyak Brent di US$ 111,97 per barel.

Bursa saham di Asia mengalami penurunan akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Kondisi ini dipicu ancaman Presiden AS Donald Trump untuk menyerang pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka dalam 48 jam.

Sebagai balasan, Iran mengancam akan menyerang infrastruktur energi dan fasilitas desalinasi di wilayah Teluk jika AS menyerang pembangkit listriknya. Iran juga menyatakan bahwa serangan tersebut akan menyebabkan kenaikan harga minyak dalam jangka panjang.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa infrastruktur penting, termasuk energi dan minyak di seluruh wilayah, akan menjadi target yang sah dan dihancurkan secara permanen. "Infrastruktur penting serta infrastruktur energi dan minyak di seluruh wilayah akan dianggap sebagai target yang sah dan akan dihancurkan secara permanen, dan harga minyak akan naik dalam waktu yang lama," kata Mohammad Bagher Ghalibaf, dikutip dari CNBC, Senin (23/3/2026).

Ghalibaf juga berencana menargetkan lembaga keuangan yang mendanai militer AS melalui pembelian obligasi pemerintah. Langkah ini dinilai dapat memperpanjang krisis minyak global.

Pada perdagangan Senin, harga minyak mentah Brent mencapai US$ 111,97 per barel pada pukul 19.16 EST, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$ 97,64 per barel.

Chris Verrone, kepala ahli strategi pasar Strategas Research, menjelaskan bahwa perbedaan harga antara minyak mentah Brent dan WTI menandakan puncak intensitas krisis minyak. Kenaikan harga minyak mentah Brent mendorong pelaku pasar memprediksi konflik Timur Tengah akan berlangsung lebih lama.

Akibatnya, sejumlah bursa Asia mengalami penurunan tajam pada perdagangan Senin. Indeks Nikkei 225 Jepang turun hampir 5%, sementara Indeks saham Topix melemah hingga 4,4%.

Indeks saham Korea Selatan, Kopsi, anjlok lebih dari 6%, dan indeks Kosqad turun hampir 5%. Beberapa bursa Korea Selatan bahkan sempat menghentikan perdagangan setelah turun lebih dari 5%.

Indeks S&P/ASX 200 Australia juga tercatat melemah 2,4%, sementara Indeks Hang Seng Hong Kong dan CSI 300 masing-masing turun hampir 2%.

Saham berjangka pada indeks Dow Jones Industrial Average datar, dan S&P 500 terkoreksi 0,1%. Harga saham berjangka Nasdaq Composite turun 0,2%.

Tiga indeks utama AS mengakhiri perdagangan pekan lalu dengan koreksi. S&P 500 turun lebih dari 1,5%, jatuh di bawah rata-rata pergerakan 200 hari untuk pertama kalinya sejak Mei. Dow Jones mengalami penurunan beruntun selama empat minggu pertama sejak 2023, dan Nasdaq turun sekitar 2% sepanjang pekan ini.

Recommended