BSI Catat Pertumbuhan Positif Awal 2026, Laba Naik 17%

Bank Syariah Indonesia (BSI) mencatat pertumbuhan laba 17% YoY pada Februari 2026, didorong oleh pembiayaan dan pendapatan komisi yang meningkat.

PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) memulai tahun 2026 dengan catatan kinerja yang positif. Strategi perseroan dalam mengakselerasi digitalisasi, memperkuat bisnis emas, serta fokus pada segmen konsumen dan UMKM dinilai berhasil mempertahankan pertumbuhan berkelanjutan.

Perseroan juga aktif mendukung program pemerintah, termasuk Astacita, melalui penyaluran pembiayaan pada sektor produktif. Dukungan ini diwujudkan melalui pembiayaan mikro, SME, Kredit Usaha Rakyat (KUR) syariah, serta penguatan ekosistem Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menurut Corporate Secretary BSI, Wisnu Sunandar, BSI terus memperkuat komitmen dalam mendukung program Astacita pemerintah, terutama dalam penyaluran pembiayaan segmen ritel guna mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional.

Kinerja BSI (unaudited) per Februari 2026 menunjukkan pertumbuhan solid di berbagai indikator utama. Pembiayaan tumbuh 14,32% menjadi Rp323 triliun secara YoY, dengan kontribusi terbesar berasal dari segmen konsumer, khususnya bisnis emas.

Pertumbuhan pembiayaan juga didorong oleh kontribusi pembiayaan ritel, termasuk UMKM, yang mencapai Rp52,43 triliun, naik 6,10% (YoY). Perseroan berkomitmen kuat mendukung UMKM untuk naik kelas melalui pendampingan, pelatihan, pembiayaan, business matching, hingga penyediaan layanan BSI UMKM Center.

Strategi BSI dalam memperkuat diferensiasi melalui bisnis bullion bank menjadi salah satu keunggulan. Sejak memperoleh izin bullion bank, bisnis emas BSI menunjukkan pertumbuhan signifikan dan menjadi salah satu pendorong utama kinerja perseroan.

Peningkatan kelolaan emas yang telah mencapai sekitar 22,5 ton, serta basis nasabah yang terus berkembang hingga 23 juta dalam empat tahun terakhir, turut memperkuat kinerja BSI. Dari sisi profitabilitas, BSI mencatat laba sebesar Rp1,36 triliun, tumbuh sekitar 17% (YoY), melanjutkan tren pertumbuhan berkelanjutan dalam beberapa tahun terakhir.

Pendapatan berbasis komisi (fee based income) meningkat menjadi Rp1,47 triliun, atau tumbuh 30% (YoY). Layanan bank emas menjadi kontributor utama pertumbuhan FBI, dengan lonjakan tertinggi sebesar 136,55% menjadi Rp463 miliar.

Bisnis treasury dan layanan e-channel juga mendukung kinerja FBI, mencerminkan efektivitas strategi digitalisasi dan diversifikasi layanan BSI. Hingga Februari 2026, jumlah pengguna superapps BYOND by BSI mencapai 6,3 juta dengan jumlah transaksi mencapai 125,4 juta transaksi.

Dari sisi intermediasi, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 14,76% (YoY) menjadi Rp366 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan tabungan sebesar 16,06% (YoY) menjadi Rp154 triliun, yang mencerminkan semakin tingginya kepercayaan masyarakat terhadap layanan perbankan syariah.

Likuiditas perseroan tetap terjaga dengan Financing to Deposit Ratio (FDR) di level 88,20%. Sementara itu, kontribusi fee based income terhadap total pendapatan juga semakin meningkat, tercermin dari kenaikan fee based ratio menjadi 24,59% secara tahunan.

Kinerja ini menegaskan keberhasilan strategi BSI dalam memperkuat struktur pendapatan yang lebih seimbang antara margin dan fee based, sekaligus meningkatkan ketahanan bisnis di tengah dinamika industri keuangan.

Perseroan optimistis dapat menjaga pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan sepanjang 2026, didukung oleh penguatan ekosistem syariah, transformasi digital, serta pengembangan bisnis emas sebagai salah satu pilar utama pertumbuhan.

Selain bullion bank dan penempatan dana SAL, BSI juga berkontribusi pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui penyediaan layanan 1520 virtual account Mitra BGN dan pembiayaan pembangunan Dapur SPPG MBG mencapai Rp194,50 Miliar untuk 145 dapur. BSI juga turut mendukung aspirasi pemerintah mewujudkan sekitar 80.000 koperasi KDMP.

YtD Februari 2026, BSI telah menyalurkan pembiayaan KUR sebesar Rp1,65 Triliun. BSI juga mendukung Program 3 Juta Rumah FLPP (rumah subsidi) secara YtD Februari 2026 sebesar Rp94,82 Miliar dengan jumlah 582 unit rumah dan penyaluran KPP secara YtD Februari 2026 sebesar Rp259 Miliar.

Recommended