BUMA Internasional Grup Rugi Bersih US$128 Juta pada 2025

PT BUMA Internasional Grup Tbk mencatat rugi bersih US$128 juta pada 2025 akibat penurunan pendapatan dan volume, meski diimbangi keuntungan investasi.

PT BUMA Internasional Grup Tbk mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 16% secara tahunan (YoY) pada tahun 2025, menjadi US$1,48 miliar. Penurunan ini terutama disebabkan oleh volume yang lebih rendah, sementara harga jual rata-rata (ASP) kontraktor tambang relatif stabil, hanya berkurang 1% YoY, demikian dilansir dari Detik Finance.

Direktur BUMA International Group, Iwan Fuad Salim, menjelaskan bahwa meskipun terdapat tantangan, perbaikan struktural di BUMA Indonesia berkontribusi pada peningkatan kinerja operasional yang progresif sepanjang tahun. Hal ini didukung oleh eksekusi yang lebih kuat dan disiplin biaya.

Laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) Grup juga menurun menjadi US$175 juta, dengan margin 14%. Penurunan ini dipengaruhi oleh volume yang lebih rendah, peningkatan biaya pesangon, serta kenaikan biaya bahan bakar. Jika biaya pesangon tidak diperhitungkan, EBITDA seharusnya mencapai US$207 juta dengan margin 17%.

Grup membukukan rugi bersih sebesar US$128 juta. Kerugian ini dipicu oleh beberapa faktor, termasuk penurunan EBITDA, penyisihan piutang usaha dari kontrak yang telah berakhir di Australia, serta penurunan nilai aset pada operasional di Australia dan Amerika Serikat.

Iwan Fuad Salim mengungkapkan, faktor-faktor tersebut sebagian diimbangi oleh keuntungan nilai wajar sebesar US$41 juta dari investasi Grup di 29Metals. Keuntungan ini seiring dengan pemulihan harga sahamnya sepanjang tahun. Selain itu, ada keuntungan selisih kurs sebesar US$36 juta, yang berbalik dari kerugian US$19 juta pada tahun fiskal 2024 menjadi keuntungan US$17 juta pada tahun fiskal 2025.

Pembalikan pencadangan piutang di Australia juga menjadi penyeimbang, setelah putusan Mahkamah Agung Queensland yang memenangkan BUMA Australia, dengan penyelesaian keuangan yang diharapkan terealisasi pada tahun 2026.

Arus Kas dan Belanja Modal

Pada 2025, Grup berhasil membukukan arus kas bebas (free cash flow) positif sebesar US$8 juta, sebuah peningkatan signifikan dibandingkan dengan posisi negatif US$60 juta pada tahun fiskal 2024. Khusus pada kuartal keempat 2025, Grup mencatat arus kas bebas sebesar US$57 juta, menjadikannya capaian arus kas bebas kuartalan tertinggi sepanjang tahun.

Belanja modal tetap terjaga secara disiplin sebesar US$179 juta, relatif stabil secara tahunan, dengan alokasi yang seimbang antara kebutuhan pemeliharaan (maintenance) dan pertumbuhan (growth).

Peningkatan Kinerja Operasional

Kinerja operasional Grup secara keseluruhan menunjukkan peningkatan yang progresif sepanjang tahun. Perbaikan struktural di BUMA Indonesia mendorong peningkatan kuartal-ke-kuartal yang konsisten. Volume overburden removal meningkat dari 76 MBCM pada kuartal pertama 2025 menjadi 79 MBCM pada kuartal keempat 2025.

Peningkatan ini ditopang oleh perbaikan terarah pada perencanaan, pelaksanaan shift yang lebih disiplin, pemeliharaan, serta penyelesaian hambatan operasional. Antara Januari 2025 hingga Januari 2026, jam kerja alat meningkat 6%, waktu henti (downtime) berkurang 31%, jam non-produktif turun 17%, dan cycle time membaik 3%. Hasilnya, biaya unit (unit cost) menurun dari US$2,22/BCM pada kuartal pertama 2025 menjadi US$1,83/BCM pada kuartal keempat 2025.

Perbaikan-perbaikan ini menghasilkan kinerja keuangan yang semakin kuat secara progresif di tingkat Grup, dengan EBITDA meningkat dari US$14 juta pada kuartal pertama 2025 menjadi US$48 juta pada kuartal keempat 2025, mencerminkan perbaikan bertahap yang kuat sepanjang tahun.

"Kami merespons dengan cepat melalui pengetatan disiplin operasional, penguatan pengendalian biaya dan fundamental pemeliharaan, serta pengambilan langkah-langkah tegas guna menjaga likuiditas dan memperkuat neraca keuangan. Langkah-langkah tersebut mendorong peningkatan produktivitas, biaya, dan arus kas sepanjang tahun, serta memberikan fondasi yang lebih kuat saat kami memasuki 2026," tutur Iwan Fuad Salim dalam siaran pers, Minggu (29/3/2026).

Inisiatif Pendanaan dan Kontrak Baru

Selama tahun fiskal 2025, Grup menyelesaikan sejumlah inisiatif pendanaan untuk memperkuat likuiditas dan memperpanjang profil jatuh tempo utangnya. Pada Februari, PT Bank Central Asia Tbk bergabung dengan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dalam fasilitas sindikasi sebesar US$1 miliar, yang memperluas basis pendanaan Grup.

Pada Maret, Grup menerbitkan Sukuk Ijarah sebesar Rp2 triliun (setara US$121,7 juta). Ini merupakan Sukuk Ijarah Korporasi Syariah Berperingkat A+ terbesar dalam Satu Kali Penerbitan di Indonesia. Penerbitan ini diikuti oleh Obligasi III BUMA Tahun 2025 sebesar Rp884 miliar (setara US$53,8 juta) pada Oktober. Pada November, Grup melunasi lebih awal Senior Notes senilai US$212 juta sebelum jatuh tempo, meningkatkan likuiditas dan fleksibilitas struktur permodalan. Secara keseluruhan, langkah-langkah ini menempatkan Grup dengan profil jatuh tempo utang yang lebih seimbang.

Sepanjang tahun fiskal 2025 hingga awal 2026, Grup berhasil mengamankan tiga kontrak signifikan di Indonesia dan Australia. BUMA Australia memperoleh perpanjangan kontrak sekitar A$740 juta di Blackwater Mine hingga Juni 2030, serta perpanjangan kontrak di Goonyella Riverside Mine hingga September 2027. Setelah penutupan tahun buku, BUMA mengamankan kontrak jangka panjang dengan PT Adaro Indonesia di Tambang Tutupan Selatan hingga Desember 2030, mencakup sekitar 239 MBCM overburden removal dan 44 juta ton produksi batu bara, memperpanjang kemitraan yang telah terjalin selama lebih dari 20 tahun.

Recommended