Danau Natron di Tanzania menjadi sorotan pada Rabu, 6 Mei 2026, karena karakteristik kimia uniknya yang mampu mengubah bangkai hewan menjadi mumi mengapur. Perairan ini memiliki tingkat keasaman atau pH mencapai 10,5, yang setara dengan larutan amonia keras.
Kandungan natrium dan karbonat terlarut yang tinggi berasal dari proses vulkanik di sekitar kawasan tersebut. Dilansir dari Detik iNET, konsentrasi kimia di danau ini tetap stabil sepanjang tahun karena airnya tidak mengalir ke sungai atau laut manapun.
Kondisi ekstrem ini menyebabkan air Danau Natron bersifat korosif dan dapat membakar kulit serta mata makhluk hidup yang tidak beradaptasi. Suhu air bahkan dapat menyentuh angka 60 derajat Celsius saat cuaca panas ekstrem menurut data Earth Observatory NASA.
Meskipun mematikan bagi sebagian besar spesies, danau ini merupakan habitat krusial bagi 1,5 juta hingga 2,5 juta burung flamingo kecil di Afrika Timur. Kaki flamingo memiliki kulit bersisik kuat yang melindungi mereka dari luka bakar kimia saat bersarang di sana.
Warna merah pada danau dihasilkan oleh mikroorganisme halofilik dan cyanobacteria yang berkembang biak saat volume air menyusut. Pigmen dari ganggang tersebut juga memberikan warna merah muda khas pada bulu flamingo yang mengonsumsinya secara eksklusif.
Fenomena hewan yang 'membatu' di tepi danau ini mulai dikenal luas sejak fotografer Nick Brandt memublikasikan karyanya pada tahun 2013. Ia mendokumentasikan bangkai kelelawar dan burung yang terawetkan secara alami oleh tumpukan natrium karbonat.
"Saya secara tak terduga menemukan makhluk-makhluk itu, segala jenis burung dan kelelawar, terdampar di sepanjang tepi Natron. Tidak seorang pun tahu pasti bagaimana mereka mati," kata Nick Brandt, Fotografer.
Ekosistem di sekitar Danau Natron juga mencakup rawa garam dan lahan basah tawar yang menjadi rumah bagi kerbau, rusa liar, dan pelikan. Keberadaan mumi hewan di tepian danau tetap menjadi pengingat akan kerasnya kondisi lingkungan di wilayah utara Tanzania tersebut.