Dugaan tindakan kekerasan seksual dan fisik yang menimpa delapan atlet panjat tebing kini menjadi sorotan. Kasus tersebut telah dilaporkan kepada Ketua Umum Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), Yenny Wahid, memicu keprihatinan luas, seperti dilansir dari Bola.
Anggota Komisi X DPR RI, Verrell Bramasta, menyatakan penyesalannya atas insiden ini. Menurutnya, ranah olahraga seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi atlet untuk mengembangkan kemampuan dan berprestasi, bukan malah menghadapi kekerasan.
“Saya sangat menyesalkan kejadian ini dan mengecam segala bentuk kekerasan. Olahraga seharusnya menjadi ruang aman untuk membangun karakter dan meraih prestasi, bukan tempat yang mencederai martabat atlet," tegas Verrel Bramasta.
Verrell menekankan pentingnya menjaga keamanan dan martabat para atlet. Mereka adalah individu yang berlatih keras untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa, sehingga tidak boleh ada tindakan yang melukai keselamatan dan harga diri mereka.
Ia juga menyampaikan dukungannya kepada para korban dan keluarganya. "Saya berada di sisi korban dan mendoakan mereka serta keluarga yang terdampak. Kita kawal kasus ini, dan jika terbukti bersalah, pelaku harus mendapat sanksi tegas agar tidak ada lagi korban berikutnya,” lanjut Verrel.
Sebagai mitra Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) di Komisi X DPR RI, Verrell Bramasta mengapresiasi dukungan Kemenpora dalam proses investigasi yang sedang berjalan di FPTI. Ini menunjukkan sinergi antara lembaga legislatif dan eksekutif untuk menyelesaikan kasus ini.
Selain itu, ia juga memuji langkah Kemenpora untuk membuka jalur pengaduan bagi korban kekerasan seksual dan fisik. Hal ini dianggap krusial agar para korban memiliki wadah untuk melaporkan pengalaman mereka tanpa rasa takut.
“Korban harus mendapatkan pendampingan maksimal, termasuk akses pemulihan psikologis yang memadai. Identitasnya harus dijaga dan dilindungi, agar tidak menghadapi tekanan sosial karena keberanian mereka untuk bersuara," ujar Verrel.
Menurutnya, perlindungan identitas korban sangat penting untuk mencegah tekanan sosial dan memastikan mereka merasa aman dalam menyampaikan kebenaran. Verrell berharap upaya ini dapat memberikan keadilan bagi seluruh pihak yang terdampak.
“Saya sejalan dengan upaya Kemenpora dalam mendukung proses investigasi yang dilakukan oleh Federasi Panjat Tebing Indonesia," tambahnya. Ia juga mengapresiasi pembentukan tim khusus serta inisiatif Kemenpora untuk menyediakan ruang pengaduan bagi para korban.
Pesan untuk Federasi Olahraga Lain
Kasus ini menjadi momentum penting bagi seluruh federasi olahraga di Indonesia untuk melakukan evaluasi menyeluruh. Verrell Bramasta berharap setiap federasi dapat menjamin keamanan dan keselamatan atlet dari berbagai bentuk ancaman kekerasan selama pemusatan latihan.
“Kasus ini menjadi pengingat bagi kita bersama bahwa integritas pembinaan atlet harus diutamakan," tegas Verrel. Ia menyerukan penguatan sistem pengawasan dan perlindungan di seluruh federasi olahraga serta pemusatan latihan nasional (pelatnas).
Tujuannya adalah agar insiden serupa tidak terulang kembali, mengingat peristiwa semacam ini tidak hanya menyakitkan bagi korban, tetapi juga merusak citra olahraga Indonesia di mata publik.