Potensi terwujudnya duet Pedro Acosta dan Marc Marquez di tim Ducati pada musim balap mendatang telah memicu banyak diskusi di kalangan penggemar dan pakar MotoGP. Situasi ini, menurut mantan bos tim MotoGP Livio Suppo, berpotensi membangkitkan kembali memori rivalitas sengit antara Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo saat keduanya bernaung di tim Yamaha, seperti dilansir dari Bola.
Pada tahun 2008, Yamaha mengambil keputusan berani dengan menduetkan Rossi, yang saat itu berada di puncak performanya, dengan Lorenzo, seorang bintang muda yang sedang naik daun. Langkah ini sontak menciptakan ketegangan internal yang bahkan menyebabkan garasi tim harus dipisahkan oleh sekat, akibat perbedaan pemasok ban.
Valentino Rossi menikmati dominasi bersama Yamaha antara tahun 2004 hingga 2007, berhasil meraih 29 kemenangan dan dua gelar juara dunia MotoGP. Namun, kehadiran Lorenzo dengan cepat mengubah dinamika. Pembalap muda tersebut menunjukkan kapasitasnya sebagai penantang serius, bahkan berhasil meraih kemenangan di balapan ketiganya di MotoGP.
Persaingan intens ini justru memacu Rossi untuk meningkatkan performanya, yang berujung pada perolehan gelar juara dunia MotoGP secara beruntun pada tahun 2008 dan 2009. Meskipun musim 2010 diprediksi akan menjadi duel sengit lainnya antara keduanya, cedera kaki yang dialami Rossi di Mugello mengubah jalan cerita. Setelah melalui dua musim sulit bersama Ducati, Rossi kembali ke Yamaha pada 2013 dan kembali bersaing ketat dengan Lorenzo.
Keduanya terus saling mendorong, dengan Lorenzo menjadi pembalap Yamaha terbaik pada 2013, Rossi pada 2014, Lorenzo pada 2015 saat merebut gelar dunia ketiganya, dan Rossi kembali unggul pada 2016 sebelum Lorenzo pindah ke Ducati.
Acosta Berpotensi Membangkitkan Semangat Marquez
Menurut Livio Suppo, skenario serupa dapat terulang jika Acosta resmi bergabung dengan Ducati dan menjadi rekan setim Marquez. “Ini seperti ketika Yamaha memasangkan Lorenzo dengan Valentino. Jorge memperpanjang karier Rossi, ia memenangkan dua gelar dunia lagi,” kata Suppo kepada GPOne.com.
Suppo menambahkan bahwa kehadiran pembalap muda dan cepat seperti Acosta bisa menjadi dorongan besar bagi pembalap berpengalaman seperti Marquez. “Hal seperti itu akan menjadi stimulus bagi pembalap kuat seperti Marquez, yang jelas merupakan pembalap luar biasa, sama seperti Valentino dulu,” ujarnya. “Memiliki pembalap muda yang sangat cepat di samping Anda bisa menghidupkan kembali semangat, karena itu memunculkan kembali daya juang yang mungkin sedikit berkurang seiring waktu.”
Ia bahkan tidak melihat kemungkinan Marquez akan merasa terganggu dengan situasi tersebut. “Saya tidak melihat Marc akan marah dengan situasi seperti itu, justru sebaliknya,” lanjut Suppo.
Duel Awal Antara Acosta dan Marquez
Saat ini, Acosta yang membela KTM menduduki posisi ketiga dalam klasemen sementara dan telah menunjukkan kemampuannya. Ia bahkan sudah berduel dengan Marquez dalam perebutan kemenangan pada balapan sprint pembuka musim di Buriram. Dalam pertarungan tersebut, Acosta berhasil keluar sebagai pemenang setelah Marquez terkena penalti di akhir lomba, menunjukkan potensi persaingan yang mendebarkan di masa depan.