Ekonomi Indonesia Diprediksi Melambat Usai Lebaran 2026

Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan melambat setelah Lebaran 2026 akibat kenaikan harga BBM dan pelemahan rupiah.

Momentum Hari Raya Lebaran 2026 diperkirakan menjadi stimulus utama bagi pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I-2026. Peningkatan konsumsi akibat tunjangan hari raya (THR) dan pergerakan mudik yang masif memberikan dampak signifikan terhadap perputaran uang di berbagai daerah.

Namun, setelah periode tersebut, proyeksi menunjukkan adanya perlambatan ekonomi yang cukup besar. Kenaikan harga bahan bakar, pelemahan kurs rupiah, serta gangguan rantai pasok akibat konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran menjadi penyebabnya.

Ekonom Senior INDEF, Tauhid Ahmad, menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi secara tahunan diperkirakan hanya mencapai maksimal 5% pada kuartal kedua. Hal ini disebabkan tidak adanya momentum khusus dan dampak faktor global yang mulai dirasakan di Indonesia.

Tauhid menjelaskan bahwa tingkat konsumsi masyarakat akan kembali normal setelah Lebaran, bahkan cenderung sedikit menurun karena dana telah banyak dialokasikan untuk keperluan hari raya. Selain itu, konflik di Timur Tengah menjadi kekhawatiran utama yang diperkirakan akan mulai berpengaruh pada kuartal II, berpotensi mengurangi permintaan impor dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

Penurunan ekspor komoditas nasional dapat terjadi akibat kondisi ini, yang secara langsung mengurangi pendapatan negara dan sektor swasta, terutama eksportir.

"Dari sisi perdagangan internasional, itu pasti sudah mulai berkurang di kuartal kedua. Karena kan beberapa negara seperti Amerika, Timur Tengah, China, semua itu pasti mengurangi permintaan dengan kondisi ini. Tidak mungkin meningkatkan permintaan karena biaya lagi naik, karena biaya logistik baik BBM maupun hambatan rantai pasok," jelasnya.

Pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan biaya logistik juga diperkirakan akan berdampak signifikan pada impor bahan baku produksi dalam negeri. Hal ini dapat meningkatkan biaya produksi dan mendorong kenaikan harga produk di tingkat konsumen.

"Mereka nggak berani impor barang modal, barang baku penolong dan sebagainya. Jadi dari sisi ekspor-impor mengalami perlambatan," terang Tauhid.

Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 hanya berkisar antara 4,7-4,9%. Faktor utama yang menyebabkan hal ini adalah pelemahan kurs rupiah serta inflasi energi dan pangan akibat tingginya harga minyak global.

"Untuk kuartal ke II 2026 diperkirakan ekonomi akan tumbuh 4,7-4,9% karena tekanan pelemahan kurs rupiah, inflasi energi dan pangan," jelas Bhima.

Selain faktor eksternal, Bhima juga menyoroti ancaman super El Nino yang diperkirakan akan terjadi pada pertengahan 2026. Fenomena ini berpotensi meningkatkan modal produksi bahan pangan dan memicu kenaikan harga kebutuhan pokok.

"Perlu dicermati adanya super El Nino bersamaan dengan krisis bahan baku pupuk mengancam produksi pangan. Kita akan hadapi cost of living crisis khususnya kelas menengah. Jadi banyak yang hold belanja dan fokus saving," terangnya.

Recommended