Langkah strategis diambil oleh raksasa alat berat, PT United Tractors Tbk (UNTR), dalam memperkuat pilar bisnis pertambangan mineral non-batubara. Emiten Grup Astra ini secara resmi telah menuntaskan proses akuisisi 100 persen saham PT Arafura Surya Alam (ASA), perusahaan pengelola tambang emas Doup yang berlokasi di Sulawesi Utara. Aksi korporasi ini menandai keseriusan UNTR dalam mendiversifikasi portofolio bisnisnya guna menjamin keberlanjutan usaha di masa depan.
Proses penyelesaian transaksi ini menjadi sorotan pelaku pasar modal karena nilai investasinya yang sangat signifikan, yakni mencapai US$ 540 juta atau setara dengan Rp9 triliun. Melalui anak usahanya, PT Danusa Tambang Nusantara (DTN) dan PT Energia Prima Nusantara (EPN), UNTR kini memegang kendali penuh atas aset yang sebelumnya dimiliki oleh PT J Resources Nusantara (JRN) dan Jimmy Budiarto. Transaksi ini pun resmi dilaporkan ke otoritas bursa pada pertengahan Februari 2026.
Kehadiran Proyek Doup di bawah naungan United Tractors diprediksi akan mengubah peta persaingan industri pertambangan emas nasional. Dengan cadangan emas yang melimpah dan dukungan finansial yang kuat dari internal kas perusahaan, UNTR memiliki kapasitas untuk mempercepat tahap konstruksi menuju operasional penuh. Bagi para investor, langkah ini dipandang sebagai upaya taktis perusahaan dalam mengurangi ketergantungan pada komoditas batubara yang volatilitasnya cukup tinggi dan mulai tertekan isu lingkungan.
Detail Penyelesaian Transaksi Akuisisi PT Arafura Surya Alam
United Tractors melalui keterbukaan informasi resminya memberikan konfirmasi bahwa seluruh syarat dalam perjanjian jual beli bersyarat telah terpenuhi. Sekretaris Perusahaan United Tractors, Ari Setiyawan, menjelaskan bahwa penyelesaian rencana transaksi tersebut telah rampung pada 11 Februari 2026.
Secara rincian, PT Danusa Tambang Nusantara (DTN) menyerap 99,99996 persen saham ASA yang dimiliki oleh JRN. Sementara itu, PT Energia Prima Nusantara (EPN) mengambil alih sisa saham sebesar 0,00004 persen milik Jimmy Budiarto, sekaligus 0,2 persen saham di PT Mulia Bumi Persada (MBP). Struktur kepemilikan ini memberikan kontrol mutlak bagi manajemen UNTR untuk menentukan arah kebijakan operasional tambang emas Doup ke depannya.
Dikutip dari investor.id (12/2/26), total nilai perusahaan atau enterprise value untuk seluruh rangkaian transaksi ini disepakati sebesar US$ 540 juta. Dengan menggunakan asumsi kurs Rp16.800 per dolar AS, nilai tersebut menembus angka Rp9 triliun. Dana jumbo tersebut diperkirakan berasal dari kas internal UNTR yang masih sangat mencukupi, mengingat posisi kas perseroan tercatat mencapai Rp25,4 triliun per semester pertama 2025.
Potensi Cadangan dan Valuasi Proyek Emas Doup
Keputusan UNTR mengakuisisi Proyek Doup bukan tanpa alasan yang kuat. Data teknis menunjukkan bahwa tambang ini memiliki potensi sumber daya yang cukup menjanjikan untuk dieksploitasi dalam jangka panjang. Proyek ini terletak di lahan seluas 4.000 hektare di Sulawesi Utara dan memegang Izin Usaha Pertambangan-Operasi Produksi (IUP-OP) yang valid.
Berdasarkan analisis dari Stockbit Sekuritas, per akhir Desember 2023, tambang emas Doup tercatat memiliki total cadangan (reserves) sebesar 1.571 koz emas. Sementara itu, total sumber daya (resources) yang ada di lokasi tersebut mencapai 3.107 koz emas. Angka ini memberikan gambaran bahwa masa depan produksi di area ini masih sangat panjang.
Berikut adalah tabel rincian data cadangan dan valuasi akuisisi tambang emas Doup:
| Komponen Data | Keterangan / Nilai |
| Luas Area Tambang | 4.000 Hektare |
| Lokasi Proyek | Provinsi Sulawesi Utara |
| Total Cadangan (Reserves) | 1.571 koz Emas |
| Total Sumber Daya (Resources) | 3.107 koz Emas |
| Nilai Akuisisi (Enterprise Value) | US$ 540 Juta (Rp9 Triliun) |
| Valuasi EV/Reserves | Rp5,6 Miliar per koz |
| Valuasi EV/Resources | Rp2,8 Miliar per koz |
| Status Proyek saat ini | Tahap Konstruksi |
Jika dibandingkan dengan rata-rata industri atau peers di sektor pertambangan emas, valuasi akuisisi yang dilakukan UNTR tergolong sangat menarik. Rata-rata valuasi kompetitor berada di angka Rp10,9 miliar per koz untuk reserves dan Rp7,9 miliar per koz untuk resources. Dengan kata lain, UNTR mendapatkan aset strategis ini dengan harga yang relatif kompetitif di bawah harga pasar rata-rata.
Strategi Diversifikasi Menuju Green Energy dan Mineral
Akuisisi ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang United Tractors untuk bertransformasi menjadi perusahaan yang tidak hanya bergantung pada energi fosil. Sejak beberapa tahun terakhir, UNTR giat berinvestasi pada sektor mineral seperti nikel dan emas. Langkah ini sejalan dengan komitmen perusahaan untuk meningkatkan kontribusi pendapatan dari sektor non-batubara hingga di atas 50 persen pada masa mendatang.
Manajemen United Tractors menilai bahwa emas tetap menjadi komoditas “safe haven” yang permintaannya stabil bahkan cenderung naik saat terjadi ketidakpastian ekonomi global. Dengan menguasai tambang Doup, UNTR menambah portofolio emasnya setelah sebelumnya sukses mengoperasikan tambang emas Martabe di Sumatera Utara melalui PT Agincourt Resources.
“Perseroan dengan ini memberitahukan bahwa pada tanggal 11 Februari 2026, DTN dan EPN telah menyelesaikan rencana transaksi,” ungkap Sekretaris Perusahaan United Tractors, Ari Setiyawan dalam dokumen keterbukaan informasi. Pernyataan ini menegaskan bahwa kini tanggung jawab operasional dan percepatan produksi berada sepenuhnya di bawah kendali manajemen UNTR.
Tantangan Konstruksi dan Target Produksi
Meskipun memiliki potensi cadangan yang besar, Proyek Doup saat ini masih dalam tahap konstruksi. Hingga akhir tahun 2024, proyek ini dilaporkan belum memulai operasional produksi secara komersial. Oleh karena itu, tugas utama UNTR pasca-akuisisi adalah memastikan penyelesaian fasilitas pemrosesan dan infrastruktur tambang dapat berjalan sesuai jadwal.
Para analis industri memperkirakan UNTR akan menerapkan standar operasional yang ketat seperti yang mereka lakukan di Martabe untuk memastikan efisiensi biaya produksi (all-in sustaining cost/AISC). Keahlian UNTR dalam manajemen alat berat dan kontraktor pertambangan diharapkan mampu memangkas waktu konstruksi sehingga Proyek Doup bisa segera berkontribusi pada laporan keuangan konsolidasi perusahaan dalam 1-2 tahun ke depan.
Dampak Bagi J Resources Asia Pasifik (PSAB)
Di sisi lain, bagi PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) sebagai penjual melalui anak usahanya JRN, transaksi ini menjadi langkah penting untuk memperkuat posisi neraca keuangan mereka. Dana segar dari hasil penjualan ini kemungkinan besar akan digunakan untuk pelunasan utang atau membiayai pengembangan aset tambang lainnya yang menjadi fokus utama PSAB saat ini.
Pelepasan aset Doup ke tangan UNTR dipandang sebagai solusi “win-win” bagi kedua belah pihak. PSAB mendapatkan likuiditas yang dibutuhkan untuk restrukturisasi dan fokus operasional, sementara UNTR mendapatkan aset masa depan dengan harga yang menguntungkan. Sinergi ini diharapkan memberikan dampak positif bagi stabilitas sektor pertambangan nasional secara keseluruhan.