Jaringan agensi kreatif independen Feel Good Network resmi memperluas jangkauan ke pasar Asia Tenggara dengan meluncurkan Tales Asia di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Selasa, 14 April 2026. Langkah strategis ini mencakup penunjukan tiga pimpinan baru guna memperkuat pertumbuhan bisnis di tingkat regional.
Ekspansi tersebut dilakukan sejalan dengan proyeksi nilai ekonomi digital di Asia Tenggara yang diperkirakan melampaui USD300 miliar pada tahun ini. Berdasarkan data studi e-Conomy SEA 2025, belanja iklan di kawasan ini juga mengalami pertumbuhan sebesar 16 persen secara tahunan.
Dilansir dari Medcom, dinamika ekonomi digital ini dipicu oleh tren video commerce, aktivitas konten kreator, hingga penerapan kecerdasan buatan dalam industri pemasaran. Kondisi tersebut mendorong kebutuhan akan mitra agensi yang memahami karakter pasar lintas negara secara mendalam.
CEO Feel Good Network, Wisnu Satya Putra, menyatakan bahwa kehadiran Tales Asia bertujuan menjadi jembatan bagi brand yang ingin berekspansi di Indonesia dan Malaysia. Fokus utama agensi ini adalah pendekatan strategis yang terintegrasi dengan pemahaman budaya lokal yang kuat.
"Brands bergerak dan bertumbuh dengan cepat, namun hanya sedikit mitra yang memahami dari kedua sisi," ujar Wisnu Satya Putra, CEO Feel Good Network.
Tales Asia dipimpin oleh Lila Talitha sebagai pimpinan sekaligus Chief Creative Officer Feel Good Network. Lila membawa pengalaman lebih dari 16 tahun di industri kreatif regional, termasuk rekam jejak kerja di Singapura, Malaysia, dan Indonesia.
Struktur organisasi perusahaan turut diperkuat dengan penunjukan Reza Akbar sebagai Chief Growth Officer dan Erick Sebastian sebagai Chief Content Officer. Keduanya bertanggung jawab mendorong kemitraan strategis dan pengembangan konten berbasis data bagi klien perusahaan.
Selain itu, Ranggaz Laksmana ditunjuk sebagai Group Strategic Advisor untuk memberikan perspektif terkait peluang pasar dan perilaku audiens. Sejak berdiri pada 2025, jaringan ini mengeklaim telah menangani lebih dari 20 klien dari berbagai sektor industri dengan pertumbuhan bisnis mencapai delapan kali lipat.
Model kerja yang diterapkan mencakup spesialisasi produksi konten, manajemen influencer, hingga pengolahan data. Penguatan tim kepemimpinan ini ditargetkan mampu memacu pertumbuhan agresif di bidang strategi, data, dan perdagangan di seluruh wilayah Asia Tenggara.