Ekspor Industri Kreatif Terancam Perang AS-Iran?

Menekraf mewaspadai dampak perang AS-Iran terhadap ekspor fesyen, kuliner, dan kriya Indonesia ke Timur Tengah.

Perang antara Amerika Serikat dan Iran menimbulkan kekhawatiran terhadap kelancaran perdagangan global. Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Menekraf/Kabekraf), Teuku Riefky Harsya, membahas potensi dampak konflik ini terhadap ekspor industri kreatif Indonesia ke wilayah Timur Tengah.

Menurut Riefky, terdapat tiga subsektor ekonomi kreatif yang menjadi andalan ekspor ke Timur Tengah, yaitu fesyen, kuliner, dan kriya.

"Kalau Timur Tengah memang fesyen, kuliner, kriya itu menjadi tiga subsektor ekraf yang saat ini juga ekspornya cukup tinggi," ujar Riefky di kantor Shopee Indonesia, Jakarta Selatan, Rabu (4/3/2026).

Meskipun potensi kendala ekspor mungkin terjadi, Riefky menegaskan komitmennya untuk memantau data ekspor secara seksama. Koordinasi akan dilakukan bersama instansi terkait seperti Kementerian Perdagangan, Kementerian Luar Negeri, dan Badan Pusat Statistik (BPS). Diskusi dengan berbagai pihak juga akan dilakukan untuk memahami dampak lebih lanjut pada subsektor tersebut.

Sebagai langkah antisipasi terhadap efek domino perang terhadap perekonomian nasional, Riefky menekankan perlunya menjaga stabilitas pasar domestik. Ia mendorong merek lokal untuk tidak hanya fokus pada ekspor, tetapi juga memperkuat posisinya di dalam negeri.

"Kita akan duduk bagaimana dampaknya, tetapi yang paling penting adalah bagaimana market dalam negeri ini tetap kita harus jaga," tambah Riefky.

Riefky berharap industri kreatif dapat mencontoh ketahanan UMKM saat menghadapi pandemi Covid-19. UMKM dan sektor ekonomi kreatif diharapkan dapat kembali menjadi tulang punggung ekonomi ketika perdagangan internasional mengalami gangguan.

Selain itu, pemerintah juga mendorong hilirisasi di sektor ekonomi kreatif untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor. Inisiatif ini tidak hanya berlaku untuk sektor pertambangan, tetapi juga untuk sektor fesyen, kuliner, dan kerajinan.

"Industri kreatif yang tadinya impor bisa digantikan dengan produk-produk lokal. Kita harapkan itu baik penjualan dan penyerapannya itu dari Indonesia, untuk Indonesia oleh Indonesia ini benar-benar dapat kita lakukan," jelasnya.

Recommended