Serangan yang menyasar infrastruktur energi Uni Emirat Arab (UEA) di tengah konflik dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel telah dikonfirmasi oleh pemerintah UEA. Infrastruktur energi menjadi target utama serangan tersebut.
Operasional ladang gas Shah milik UEA dihentikan akibat serangan drone pada Senin, 16 Maret 2026, seperti dilaporkan CNBC, Selasa (17/3/2026).
Otoritas setempat mengklaim telah berhasil memadamkan api di ladang gas yang merupakan salah satu yang terbesar di dunia ini.
Ladang gas Shah, yang berlokasi 180 kilometer barat daya Abu Dhabi, dioperasikan oleh usaha patungan antara ADNOC dan Occidental Petroleum Corp. Kapasitas produksinya mencapai 1,28 miliar kaki kubik standar gas per hari dan 4,2 juta ton sulfur per tahun.
Selain itu, Zona Industri Minyak Fujairah juga menjadi sasaran serangan drone Iran. Zona ini merupakan pusat ekspor minyak mentah dan pengisian bahan bakar kapal UEA.
Terletak di pesisir timur UEA, Fujairah adalah pusat penyimpanan minyak mentah dan pengiriman utama untuk wilayah tersebut.
Sebuah kapal tanker di dekat Selat Hormuz juga terkena serangan drone Iran.
CNBC melaporkan, "Lalu lintas pengiriman melalui Selat Hormuz, salah satu titik rawan energi terpenting di dunia, praktis terhenti sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Iran membalas dengan menargetkan kapal-kapal yang mencoba melewati koridor maritim tersebut."
Serangan terhadap infrastruktur energi UEA meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak yang berkepanjangan di tengah konflik Timur Tengah.
Harga minyak mentah Brent internasional untuk pengiriman Mei naik 2,2% menjadi US$ 102,36 per barel. Kontrak berjangka US West Texas Intermediate untuk pengiriman April juga naik 2,2% menjadi US$ 95,55.
Selama perang AS-Iran, harga minyak telah melonjak sekitar 40%, mencapai level tertinggi sejak 2022. Brent, yang menjadi patokan harga global, ditutup di atas US$ 100 untuk pertama kalinya dalam empat tahun terakhir.
Laporan tersebut menjelaskan bahwa Iran memperingatkan harga minyak dapat melonjak hingga US$ 200 per barel.