F1 Siapkan Tiga Sirkuit Alternatif Jika GP Bahrain dan Arab Saudi Batal

Formula 1 menyiapkan opsi sirkuit pengganti jika GP Bahrain dan Arab Saudi 2026 terpaksa dibatalkan karena masalah keamanan.

Formula 1 (F1) tengah bersiap dengan beberapa opsi sirkuit pengganti jika Grand Prix (GP) Bahrain dan Arab Saudi tahun 2026 mendatang urung dilaksanakan. Kekhawatiran muncul akibat situasi geopolitik di Timur Tengah yang belum stabil.

Sejumlah bandara utama di Dubai, Abu Dhabi, dan Bahrain mengalami gangguan penerbangan yang signifikan akibat konflik militer di kawasan tersebut. Hal ini memaksa para pelaku perjalanan mencari rute alternatif, termasuk personel F1 yang sebagian besar berbasis di Eropa.

Setelah GP Australia dan China, F1 dijadwalkan menggelar balapan di Bahrain (12 April) dan Arab Saudi (19 April). Namun, ketidakpastian keamanan membuat opsi penundaan atau pembatalan mulai dibahas.

Craig Slater, reporter F1 Sky Sports, menyatakan bahwa F1 belum ingin mengambil keputusan gegabah, sambil terus memantau situasi dan berkoordinasi dengan pemerintah setempat.

Tiga sirkuit dipertimbangkan sebagai pengganti. Pertama, Sirkuit Portimao di Portugal, yang semula dijadwalkan kembali ke kalender F1 pada 2027, berpotensi dipercepat kembalinya. Sirkuit ini sempat menjadi tuan rumah balapan F1 pada 2020 dan 2021 akibat pandemi COVID-19.

Pilihan lainnya adalah Imola di Italia, yang dinilai mampu menjadi tuan rumah dalam waktu singkat. Le Castellet di Prancis, atau Circuit Paul Ricard, juga masuk daftar kandidat. Sirkuit ini rutin menggelar balapan F1 dari 1971 hingga 1990, dan kembali pada 2018–2022. Dari pembalap aktif saat ini, hanya Lewis Hamilton dan Max Verstappen yang pernah menang di sana.

Sebelumnya, Pirelli telah membatalkan tes ban basah bersama Mercedes dan McLaren di Bahrain akibat laporan serangan Iran terhadap pangkalan angkatan laut Amerika Serikat di kawasan tersebut.

Slater juga menyoroti sulitnya mencari slot untuk menjadwal ulang balapan di akhir musim jika terjadi pembatalan. "Saya sudah menanyakan hal itu kepada Formula 1, dan mereka mengatakan sedang memantau situasi, tetapi tidak akan membuat reaksi yang gegabah," kata Slater.

FIA berharap situasi di Timur Tengah mereda sebelum rombongan tiba di Bahrain. "Mereka menunjukkan masih ada empat atau lima minggu sebelum ajang itu digelar, dan mungkin situasinya bisa membaik, ada gencatan senjata, de-eskalasi, atau sesuatu yang serupa. Namun, sambil terus berkoordinasi dengan pemerintah di wilayah tersebut, mereka juga telah menunjukkan bahwa mereka bisa beradaptasi dan fleksibel dengan kalender di masa lalu," ujarnya.

Recommended