Pemain muda Inter Milan, Francesco Pio Esposito, membagikan pengalaman pahitnya setelah gagal mengeksekusi penalti krusial. Insiden itu terjadi saat Timnas Italia berlaga dalam final play-off Piala Dunia melawan Bosnia dan Herzegovina pada akhir Maret lalu, sebuah momen yang berujung pada tersingkirnya tim.
Dalam wawancara yang dilansir dari Bola, Esposito mengaku sangat terpukul. Ia menjadi penendang pertama dalam adu penalti, namun sepakannya melambung di atas mistar gawang. Pemain berusia 20 tahun itu mengungkapkan perasaannya untuk pertama kali kepada Corriere della Sera mengenai kegagalan tersebut.
“Saya kesulitan langsung mencerna kekecewaan itu. Saya hanya menatap satu titik dan tidak mengerti apa yang terjadi. Saya merasa hancur,” ungkapnya.
Pikiran pertama yang muncul setelah insiden tersebut adalah rasa bersalah. Esposito merasa telah mengecewakan rekan setim, orang-orang di rumah, serta teman dan keluarganya. Ia menambahkan bahwa dirinya akan kembali mengambil penalti dan merasa yakin saat mengambil tanggung jawab sebagai penendang pertama, meskipun hasil akhirnya tidak sesuai harapan.
Meskipun menelan kekecewaan, Esposito tetap mencoba melihat sisi positif dari perjuangan timnya. Ia menyatakan bahwa tim telah memberikan segalanya, bahkan sebagian besar bermain dengan 10 orang, dan masih mampu menciptakan beberapa peluang.
Sebagai jebolan akademi Inter, Esposito menjalani musim perdananya di Liga Italia dengan catatan sembilan gol dan enam assist dari 41 penampilan di semua kompetisi. Ia juga bekerja sama dengan mantan pelatih tim muda Inter, Cristian Chivu, untuk pengembangan kariernya.
Fokus Pembenahan Mental
Aspek menarik lainnya, Esposito kini serius membenahi kondisi mentalnya. Ia mengungkapkan telah bekerja sama dengan seorang psikolog olahraga selama beberapa bulan terakhir.
“Saya terbuka, dan dia memberi saya saran-saran praktis. Dia sangat membantu saya, dan saya menikmati proses mendalami hal itu,” ujarnya.
Untuk menjaga keseimbangan diri, Esposito juga mengubah beberapa kebiasaan di luar lapangan. Ia tidak bisa tidur setelah pertandingan karena adrenalin. Kini, ia menghabiskan waktu bersama orang-orang terdekat, tidak bermain PlayStation, dan bahkan mulai mengikuti kursus bahasa Inggris untuk meningkatkan kemampuannya.
Sementara itu, Inter Milan baru saja meraih kemenangan meyakinkan 5-2 atas AS Roma pada 5 Februari 2026. Hasil ini menempatkan mereka di puncak klasemen Liga Italia dengan keunggulan tujuh poin atas Napoli. Namun, kabar kurang baik datang dari kapten sekaligus top skorer tim, Lautaro Martinez, yang mengalami cedera otot dan diperkirakan absen selama dua pekan.
Esposito menyatakan bahwa tim membutuhkan penampilan meyakinkan semacam itu, bukan sekadar kemenangan. Ia menambahkan ada optimisme dan keyakinan kuat dalam tim. Mengenai Lautaro, Esposito menilai kaptennya adalah pemain yang sangat komplet, dengan gairah dan rasa lapar yang paling mengesankan, bahkan saat latihan.