Guadalajara Siap Jadi Tuan Rumah Piala Dunia 2026 di Tengah Kekerasan

Persiapan Guadalajara sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026 dibayangi kekerasan kartel narkoba, menimbulkan kekhawatiran akan keamanan turnamen.

Guadalajara, Meksiko, tengah bersiap menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026. Namun, persiapan ini dibayangi kekhawatiran akibat gelombang kekerasan kartel narkoba yang melanda kota tersebut.

Pemerintah kota Guadalajara merasa cemas dalam menghelat turnamen sepak bola terbesar ini. Akhir pekan lalu, operasi militer yang menewaskan Nemesio "El Mencho" Oseguera, pemimpin Jalisco New Generation Cartel, memicu bentrokan bersenjata antara aparat dan kelompok kriminal di berbagai wilayah, sekitar 130 kilometer dari Guadalajara.

AFP melaporkan, sedikitnya 57 orang tewas, baik dari pihak militer maupun kartel. Aksi balasan juga memicu pembakaran bus, tempat usaha, serta blokade jalan raya di 20 negara bagian. Pertandingan sepak bola di Guadalajara dan Queretaro sempat ditangguhkan.

Sebagai ibu kota negara bagian Jalisco, Guadalajara akan menggelar empat laga di Estadio Akron, yaitu Korea Selatan versus pemenang path D play-off zona Eropa, Meksiko kontra Korea Selatan, Uruguay melawan Spanyol, serta Kolombia versus pemenang path 1 play-off inter-konfederasi.

Pemerintah Jalisco mengandalkan teknologi untuk menjamin keamanan. Drone, sistem anti-drone, dan pengawasan video berbasis kecerdasan buatan akan diterapkan demi memastikan turnamen berjalan aman.

Jalisco merupakan salah satu wilayah dengan angka orang hilang tertinggi di Meksiko. Data resmi mencatat 12.575 kasus orang hilang, lebih dari separuhnya berasal dari wilayah metropolitan Guadalajara. Banyak kasus diduga terkait perekrutan paksa oleh kelompok kriminal. Keluarga korban kerap menemukan kuburan massal ilegal saat mencari anggota keluarga mereka yang hilang.

Sebagian warga menilai atmosfer perayaan Piala Dunia terasa kontras dengan duka yang masih menyelimuti kota. "Saya tidak merasa ada yang perlu dirayakan. Situasinya terasa sangat mengerikan," ujar Carmen Ponce (26), yang kehilangan kakaknya pada 2020. "Negara merayakan gol, sementara kami masih mencari keluarga kami," katanya.

Juan Carlos Contreras, pimpinan jaringan kamera pengawas Guadalajara, mengakui potensi aksi protes warga terhadap pemerintah selama Piala Dunia berlangsung.

Missael Robles, seorang pemandu wisata lokal, mengaku telah membatalkan 25 tur sejak kekerasan pecah. "Pukulan ekonominya besar," ujarnya.

Aparat menemukan properti yang digunakan kelompok kriminal hanya beberapa kilometer dari Estadio Akron. Kurang dari dua kilometer dari kompleks stadion, jaksa negara bagian menggerebek sebuah rumah dan menangkap dua tersangka penculikan.

Jose Raul Servin, yang telah mencari putranya sejak 2018, menyampaikan kekhawatirannya. "Kami tidak ingin siapa pun mengalami apa yang kami alami," katanya. Dia mengenang putranya sebagai penggemar sepak bola sejati. "Andai dia masih ada, dia pasti bahagia menyambut Piala Dunia," ucapnya.

Guadalajara kini dihadapkan pada ujian besar: memastikan pesta sepak bola dunia tetap aman, tanpa mengabaikan luka sosial yang belum sepenuhnya sembuh.

Recommended