Sekitar 80 persen perusahaan secara global masih menghadapi kendala akses data dalam proses implementasi kecerdasan buatan (AI) menurut laporan terbaru Cloudera yang dirilis pada Rabu, 22 April 2026. Temuan ini menyoroti adanya hambatan infrastruktur di tengah ambisi besar organisasi untuk mengadopsi teknologi AI.
Survei bertajuk The Data Readiness Index ini melibatkan hampir 1.300 pemimpin IT di berbagai negara. Dilansir dari Medcom, laporan tersebut mengungkapkan bahwa meskipun 96 persen organisasi telah mengintegrasikan AI ke proses bisnis inti, mayoritas masih kesulitan mengelola data secara menyeluruh.
Kesenjangan antara ambisi dan realitas ini melahirkan fenomena yang disebut sebagai ilusi kesiapan AI (AI readiness illusion). Perusahaan merasa siap mengadopsi teknologi tersebut, namun fondasi data yang dimiliki belum memadai untuk menciptakan dampak bisnis yang nyata.
Kondisi di Indonesia menunjukkan anomali yang lebih tajam dibandingkan rata-rata global. Sebanyak 100 persen pemimpin IT di tanah air menyatakan keyakinan tinggi terhadap data mereka, namun faktanya hanya 26 persen organisasi yang benar-benar memiliki data yang terkelola sepenuhnya.
"Sebagian besar organisasi di Indonesia percaya diri dalam mengimplementasikan AI karena sudah memiliki strategi yang jelas dan komitmen investasi. Namun, masih terdapat kesenjangan antara ambisi penerapan AI dengan kesiapan infrastruktur dan tata kelola data," ujar Regional Vice President Cloudera Indonesia Sherlie Karnidta.
Laporan tersebut juga mencatat bahwa tantangan pengembalian investasi atau ROI masih menjadi isu besar. Faktor penghambat utama meliputi kualitas data sebesar 22 persen, kenaikan biaya operasional 16 persen, serta integrasi alur kerja yang tidak optimal mencapai 15 persen.
Infrastruktur yang terbatas turut memperlambat inisiatif operasional perusahaan. Sebanyak 73 persen responden melaporkan kendala kinerja sistem yang menghambat proses skalabilitas AI di lingkungan kerja yang masih terfragmentasi.
Masalah visibilitas data menjadi sorotan khusus di Indonesia, di mana 48 persen responden menyebutnya sebagai hambatan utama. Selain itu, terdapat resistensi budaya terhadap berbagi data sebesar 52 persen dan dampak kualitas data rendah terhadap hasil AI sebesar 31 persen.
Sektor telekomunikasi tercatat memiliki kesiapan akses data yang lebih baik dibandingkan industri lainnya. Sebaliknya, sektor jasa keuangan dan pelayanan publik masih menunjukkan tingkat kesiapan yang rendah dalam hal visibilitas serta aksesibilitas data lintas sistem.