Harga bitcoin hari ini kembali melemah pada Senin, 26 Januari 2026, setelah pergerakannya beberapa pekan terakhir cenderung tidak memberi “kejutan” besar. Di tengah tekanan itu, pasar ikut menyoroti derasnya aksi jual dari investor tradisional Amerika Serikat yang terjadi lewat jalur ETF Bitcoin spot.
Harga bitcoin hari ini bukan cuma soal angka yang turun naik dalam 24 jam terakhir, tapi juga tentang perubahan sentimen: apakah pelemahan ini sekadar koreksi sehat sebelum memantul, atau awal dari fase turun yang lebih dalam.
Harga Bitcoin Hari Ini 26 Januari 2026: Turun 1,15% dalam 24 Jam
Pada 26 Januari 2026, Bitcoin (BTC) tercatat di level US$87.792 atau sekitar Rp1.478.140.973, turun 1,15% dalam 24 jam terakhir. Dalam periode yang sama, BTC sempat bergerak di rentang Rp1.452.594.005 (terendah) hingga Rp1.498.206.889 (tertinggi).
Pergerakan ini membuat banyak trader kembali “pasang mode waspada”. Pasalnya, angka US$87 ribuan bukan level yang bisa dianggap enteng, karena area ini sering diperlakukan pasar sebagai zona tarik-menarik: pembeli mengincar pantulan, sementara penjual memanfaatkan momentum koreksi.
Di sisi lain, data historis harga harian juga menunjukkan bahwa pada 26 Januari 2026 Bitcoin sempat berada di kisaran open US$86.577 hingga high US$87.797, lalu ditutup sekitar US$87.289.
Kalau dilihat sekilas, volatilitas harian memang tidak “meledak”. Namun, justru kondisi seperti ini biasanya rawan membuat pasar bergerak tajam saat ada pemicu kuat.
Investor Tradisional AS Ramai-Ramai Kurangi Eksposur Bitcoin
Salah satu alasan yang paling sering disebut dalam tekanan terbaru adalah perubahan sikap investor tradisional di Amerika Serikat.
Mereka disebut mulai mengurangi eksposur terhadap Bitcoin dengan melakukan penjualan melalui manajer dana. Jalur yang paling terlihat dampaknya adalah ETF Bitcoin spot di AS.
Dalam laporan yang beredar, ETF Bitcoin spot AS mencatat arus keluar bersih mingguan sekitar US$1,33 miliar, menjadi yang terbesar sejak Februari 2025.
Arus keluar ETF sebesar itu biasanya jadi “alarm” buat pasar. Bukan cuma karena nilainya besar, tetapi karena ETF sering dianggap mewakili selera investor institusi dan tradisional. Saat mereka menarik dana, efek psikologisnya bisa menekan harga lebih cepat, bahkan sebelum dampak riilnya terasa penuh.
Arus Keluar ETF Besar = Bearish? Tidak Selalu Sesederhana Itu
Secara teori, arus keluar ETF memang identik dengan tekanan bearish.
Namun pasar kripto juga punya kebiasaan unik: sering kali harga mulai pulih justru ketika sentimen mayoritas sudah “gelap”. Dalam banyak siklus, kondisi seperti ini bisa berubah menjadi peluang akumulasi—dengan catatan, tekanan jual tidak berubah jadi panic selling.
Di fase sekarang, penjualan dari ETF memang terlihat dominan. Tapi data lain menunjukkan Bitcoin masih relatif bertahan di level tinggi, tidak jatuh bebas.
Artinya, ada sisi lain yang bekerja: permintaan spot masih ada, dan sebagian pelaku pasar tetap memilih bertahan.
Pemegang Jangka Pendek Mulai Masuk Zona “Nyaris Impas”
Salah satu indikator yang menarik diperhatikan adalah perilaku pemegang jangka pendek (short-term holders/STH).
Dari sudut pandang on-chain, tanda-tanda perubahan sikap mulai terlihat. Aktivitas STH disebut mendekati titik impas, yang sering kali memengaruhi keputusan: lanjut tahan, atau buru-buru jual.
Indikator yang sering dipakai untuk memotret kondisi ini adalah Short-Term Holder Spent Output Profit Ratio (STH SOPR).
Secara sederhana:
-
STH SOPR > 1 → kelompok jangka pendek rata-rata menjual dalam kondisi untung
-
STH SOPR < 1 → kelompok jangka pendek menjual dalam kondisi rugi
-
STH SOPR = 1 → netral (impas)
Saat ini, nilai STH SOPR Bitcoin berada di sekitar 0,99, alias sedikit di bawah angka netral.
Kondisi “0,99” ini kelihatannya tipis, tapi efeknya besar. Kenapa?
Karena saat STH mulai mendekati impas, ada dua kemungkinan besar:
-
Mereka memilih tahan karena merasa “sebentar lagi balik modal”
-
Mereka justru jual begitu impas untuk keluar dari risiko
Dua skenario ini punya dampak berbeda terhadap pergerakan harga. Jika mayoritas memilih tahan, potensi rebound lebih masuk akal. Tapi jika mayoritas menunggu impas untuk kabur, tekanan jual bisa muncul lagi di level atas.
Coin Age Bands Mengarah ke Pola Simpan Lebih Lama
Selain SOPR, ada juga indikator lain yang dibahas: Coin Age Bands, yang dipakai untuk melihat berapa lama koin “diam” sebelum berpindah.
Dalam pembacaan sederhana, pergeseran Coin Age Bands ke arah koin yang lebih lama tidak bergerak sering dianggap sinyal bahwa pasar mulai memasuki fase “menahan, bukan panik menjual”.
Kondisi seperti ini biasanya muncul ketika pelaku pasar merasa area harga sekarang cukup menarik untuk disimpan, bukan untuk dibuang cepat.
Apakah Pasar Bitcoin Siap Rebound?
Pertanyaan paling sering muncul dari situasi seperti ini adalah: apakah Bitcoin siap rebound?
Beberapa analis melihat peluang pemulihan masih terbuka dengan menilai rasio Long-Term Holder (LTH) SOPR dibanding Short-Term Holder (STH) SOPR.
Dalam pembacaan yang digunakan, rasio LTH SOPR / STH SOPR saat ini berada di kisaran 1,3, dan disebut masih tergolong rendah dibanding rentang historisnya.
Biasanya:
-
Ketika rasio ini naik ke level ekstrem, pasar sering mendekati puncak lokal (local top).
-
Ketika masih rendah, pasar dianggap belum menunjukkan tanda euforia “puncak”.
Karena itu, penurunan harga terbaru dinilai belum otomatis menandai akhir dari siklus naik. Bahkan, ada dugaan pembeli masih akan masuk untuk akumulasi di area sekarang—tentu dengan risiko yang tetap nyata.
Satu catatan penting: peluang rebound ini akan lebih kuat kalau STH SOPR mampu menembus 1 secara meyakinkan. Saat itu terjadi, kepercayaan pasar jangka pendek biasanya ikut naik.
Peran Pemegang Jangka Panjang Masih Jadi Kunci
Meski pemegang jangka pendek terlihat aktif menjaga “stabilitas sementara”, arah besar pasar Bitcoin tetap sering ditentukan oleh pemegang jangka panjang (long-term holders/LTH).
Jika LTH mendadak melepas aset dalam jumlah besar, permintaan spot yang ada bisa tidak sanggup menahan tekanan. Hasilnya: harga turun lebih dalam.
Karena itu, pasar juga memantau indikator Binary Coin Days Destroyed (CDD) yang digunakan untuk melacak apakah koin-koin lama mulai bergerak (biasanya mengarah pada distribusi atau aksi jual dari holder lama).
Dalam kondisi terbaru, Binary CDD disebut masih rendah, menandakan aktivitas penjualan dari LTH masih minim.
Kalau pola ini bertahan, struktur pasar relatif “aman” untuk tetap memberi ruang pemulihan.
Kenapa Volume Perdagangan Bisa Naik Saat Harga Turun?
Dalam data yang beredar, volume perdagangan 24 jam Bitcoin justru sempat melonjak besar.
Volume perdagangan disebut naik sekitar 189% menjadi sekitar Rp831 triliun dalam 24 jam.
Fenomena volume naik saat harga turun sering terjadi karena:
-
Banyak trader keluar masuk cepat (panic + scalp trading)
-
Likuidasi posisi leverage
-
Perebutan area support penting oleh buyer dan seller
Tapi volume tinggi juga bisa berarti pasar sedang “memilih arah”. Dan itu biasanya membuat pergerakan berikutnya jadi lebih agresif.
Level yang Sering Diperhatikan Trader di Area US$87 Ribuan
Walau tiap analis beda-beda dalam menarik garis, biasanya area sekitar level sekarang akan dipakai untuk membaca kekuatan pasar.
Beberapa hal yang umum dipantau trader:
-
Area support terdekat: zona yang menahan penurunan
-
Area resistance terdekat: zona yang sulit ditembus saat naik
-
Reaksi harga terhadap berita ETF: apakah tekanan jual mereda atau makin menjadi
Yang perlu diingat: Bitcoin bukan pasar yang “patuh” pada satu indikator saja. Faktor makro, sentimen global, dan arus modal institusi sering mengubah arah dengan cepat.
Kesimpulan
Pergerakan Harga Bitcoin Hari ini 26 Januari 2026 masih berada dalam tekanan setelah BTC turun ke sekitar US$87.792 atau Rp1,47 miliar. Arus keluar besar dari ETF Bitcoin spot AS yang mencapai sekitar US$1,33 miliar ikut menjadi sorotan utama, karena sering dibaca sebagai tanda investor tradisional sedang mengurangi risiko.
Meski begitu, data on-chain menunjukkan pemegang jangka pendek mulai mendekati titik impas, sementara pemegang jangka panjang belum terlihat agresif menjual. Kombinasi ini membuat peluang rebound tetap terbukanamun pasar masih menunggu konfirmasi, terutama jika indikator profitabilitas jangka pendek mampu kembali menembus level netral.