Klaim Presiden AS, Donald Trump, yang menyatakan keberhasilan pemerintahannya dalam menekan harga daging ayam, sapi, dan telur, bertentangan dengan laporan terkini.
Harga daging ayam dan sapi di Amerika Serikat justru mengalami lonjakan sejak Januari 2025, bersamaan dengan kembalinya Trump sebagai presiden, menurut laporan CNBC.
Penurunan harga telur lebih disebabkan oleh meredanya wabah flu burung.
Juru bicara Gedung Putih, Kush Desai, menyatakan, "Presiden Trump benar: inflasi telah mereda, dan harga banyak kebutuhan pokok sehari-hari telah turun atau berada pada jalur yang tepat."
Harga daging sapi di AS mendekati level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, terus meningkat sejak Januari tahun lalu.
Data federal menunjukkan harga rata-rata daging sapi giling mencapai US$ 6,75 per pon pada Januari, tertinggi yang pernah tercatat oleh Biro Statistik Tenaga Kerja AS.
Harga ini naik 22% dari US$ 5,55 per pon pada Januari 2025, menandai inflasi tahunan tercepat sejak Juni 2020.
Harga daging sapi potong juga mengalami kenaikan. Rata-rata harga steak mentah mencapai US$ 12,30 per pon pada Januari, naik 13% dalam setahun terakhir dan mendekati rekor tertinggi US$ 12,51 per pon.
Daging sapi panggang mentah berada di level US$ 8,82 per pon pada Januari, naik 14% dan mendekati rekor tertinggi US$ 9,29 per pon yang tercatat November lalu.
Kenaikan harga ini didorong oleh pasokan ternak yang rendah dan permintaan rumah tangga yang tinggi. Persediaan ternak sapi di AS berada di titik terendah dalam beberapa dekade.
Data Departemen Pertanian AS (USDA) per 1 Januari 2025 mencatat hanya ada 27,6 juta sapi potong di AS, terendah sejak 1961, dan total 86,2 juta ekor sapi, terendah sejak 1951.
Musim kering yang panjang menyebabkan penurunan kualitas padang rumput, memaksa peternak mengimpor jerami, menurut ekonom American Farm Bureau Federation, Bernt Nelson.
Harga Ayam dan Telur
Harga rata-rata daging ayam juga mengalami kenaikan, sekitar 1% dalam setahun terakhir berdasarkan indeks harga konsumen.
Rata-rata harga dada ayam tanpa tulang mencapai US$ 4,17 per pon pada Januari, naik dari US$ 3,97 per pon tahun sebelumnya.
Harga telur Grade A berukuran besar sempat mencapai US$ 6,23 per lusin, namun kemudian turun 59% menjadi US$ 2,58 per lusin pada Januari.
Ekonom Wells Fargo Agri-Food Institute, Swanson, menjelaskan bahwa penurunan harga telur ini disebabkan oleh meredanya wabah flu burung yang sempat mendorong harga ke level tertinggi pada akhir 2024 hingga awal 2025.
"Kita melihat penurunan harga yang luar biasa dari harga tertinggi yang mencengangkan," katanya.
Data USDA mencatat wabah flu burung telah merenggut lebih dari 38 juta ayam petelur komersial pada tahun 2024 dan 20 juta ekor ayam petelur pada awal 2025.
Ekonom Advanced Economic Solutions, Smith, mengatakan sebanyak 140 juta ayam petelur mati sejak tahun 2022. Dampak wabah flu burung pada akhir 2025 dan awal 2026 belum signifikan bagi peternak unggas.
"Anda tidak bisa pulih dengan cepat dari itu," kata Smith.