Pasar kripto terpengaruh oleh ketegangan di Timur Tengah yang mendorong naiknya harga minyak dunia. Investor kini menaruh perhatian pada dinamika geopolitik dan harga energi.
Menurut Vice President Indodax, Antony Kusuma, volatilitas harga minyak telah meningkat dalam beberapa minggu terakhir seiring dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kondisi ini berpotensi memicu tekanan inflasi dan berdampak luas pada aktivitas ekonomi.
Antony Kusuma mengatakan, "Oleh karena itu, investor cenderung mencermati berbagai indikator ekonomi sebelum mengambil keputusan investasi."
Reaksi investor terhadap data inflasi Amerika Serikat (AS) terlihat terbatas. Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$ 69.000 dengan pergerakan moderat setelah laporan inflasi dirilis. Pelaku pasar masih menunggu data ekonomi selanjutnya dan arah kebijakan moneter global.
Antony menilai angka inflasi AS pada Februari 2026 sebesar 2,4% sesuai ekspektasi pasar, sehingga sentimen investor cenderung stabil. Investor kini fokus pada arah kebijakan suku bunga The Fed, yang memengaruhi likuiditas dan pergerakan aset berisiko seperti kripto.
Inflasi bulanan AS pada Februari tercatat naik 0,3%, lebih tinggi dari kenaikan Januari sebesar 0,2%. Inflasi inti (core CPI) naik 0,2% secara bulanan dan 2,5% secara tahunan, sesuai proyeksi analis.
Stabilitas inflasi ini memperkuat pandangan bahwa tekanan harga di AS masih terkendali, meski di atas target 2% Federal Reserve. Ekspektasi kebijakan moneter tercermin dalam proyeksi pasar melalui CME FedWatch Tool, yang menunjukkan peluang hampir 99% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Maret. Probabilitas pemotongan suku bunga sekitar 25 basis poin pada April diperkirakan sekitar 11%.
"Kondisi ini membuat pasar kripto cenderung bergerak lebih defensif sambil menunggu kepastian arah kebijakan moneter berikutnya," jelas Antony.
Antony Kusuma mengimbau investor untuk tetap disiplin dalam manajemen risiko, melakukan riset mandiri, dan mempertimbangkan strategi investasi bertahap seperti Dollar Cost Averaging (DCA) untuk menghadapi volatilitas pasar.
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, mengatakan bahwa Bitcoin sangat sensitif terhadap dinamika makro ekonomi global. Eskalasi konflik geopolitik dan kenaikan harga energi berpotensi menekan aset berisiko dalam jangka pendek.
Fyqieh Fachrur menjelaskan, "Ketika ketegangan geopolitik meningkat dan harga energi melonjak, pasar biasanya merespons dengan menurunkan eksposur terhadap aset berisiko. Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung beralih ke aset yang dianggap lebih aman sehingga tekanan jual pada Bitcoin dan aset kripto lainnya dapat meningkat."
Kenaikan harga minyak dapat memicu tekanan inflasi global yang berpotensi mempengaruhi kebijakan moneter AS. Hal ini akan membatasi ruang pemangkasan suku bunga The Fed.
Selain faktor geopolitik dan makroekonomi, Bitcoin secara teknikal juga menunjukkan potensi pelemahan jangka pendek. Namun, volatilitas pasar saat ini dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik yang cepat, sehingga arah pergerakan pasar dapat berubah sewaktu-waktu.
"Pasar kripto saat ini sangat sensitif terhadap perkembangan global, khususnya konflik geopolitik dan dinamika kebijakan moneter. Oleh karena itu, pelaku pasar perlu mencermati perkembangan makro secara lebih luas karena faktor-faktor tersebut dapat mempengaruhi sentimen pasar dalam waktu singkat," tutup Fyqieh.