Harga Minyak Dunia Melonjak, Pemerintah Belum Ubah Subsidi BBM

Harga minyak dunia melonjak hingga menyentuh US$ 80 per barel akibat konflik di Timur Tengah, namun pemerintah belum mengubah subsidi BBM.

Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran di Timur Tengah berdampak pada harga minyak dunia. Ketegangan ini menyebabkan Iran menutup Selat Hormuz, jalur penting pengiriman minyak, sehingga memicu kenaikan harga.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa harga minyak saat ini berada di antara US$ 78-80 per barel. Angka ini telah melewati asumsi makro dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang sebesar US$ 70 per barel.

Meski harga minyak dunia melonjak, pemerintah belum memutuskan untuk mengubah kebijakan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM). Bahlil menegaskan bahwa harga BBM bersubsidi seperti Pertalite tetap Rp 10.000/liter dan Solar (Bio Solar) Rp 6.800/liter.

"Sampai dengan kami rapat tadi, belum ada. Jadi aman-aman saja, hari raya yang baik, puasa yang baik, InsyaAllah belum ada kenaikan harga BBM," kata Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (3/3/2026).

Sementara itu, Bahlil menjelaskan bahwa harga BBM nonsubsidi kemungkinan akan mengalami kenaikan. Hal ini disebabkan karena harga BBM nonsubsidi mengikuti fluktuasi harga pasar.

"Tetapi kalau untuk non-subsidi, artinya harga pasar, dia akan fluktuasi berdasarkan dinamika harga pasar yang ada, yang sudah terjadi sebelumnya. Kan itu kan sudah terjadi, bukan baru sekarang kan," katanya.

Recommended