Harga Minyak Mentah Global Naik Tajam di Tengah Ketegangan Iran-AS

Harga minyak mentah Brent dan AS melonjak signifikan pada Maret 2026, meski Presiden Trump menyatakan penarikan pasukan dari Iran.

Harga minyak mentah global terus mencatatkan kenaikan signifikan, meskipun Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengindikasikan rencana penarikan pasukan dari Iran. Sinyal positif ini belum cukup untuk meredakan ketegangan di pasar energi internasional, terutama karena potensi ancaman penutupan Selat Hormuz.

Dilansir dari Detik Finance, kontrak minyak Brent untuk pengiriman Juni terpantau naik 1,5% menjadi US$105,56 per barel pada Rabu (1/4/2026). Kenaikan ini menunjukkan lonjakan lebih dari 60% sepanjang bulan Maret, menjadikannya reli bulanan terkuat sejak tahun 1988.

Sementara itu, harga minyak mentah AS untuk pengiriman Mei juga mengalami kenaikan 1,5%, mencapai US$102,92 per barel. Angka ini menandakan lompatan sekitar 51% selama perdagangan di bulan Maret, menjadi bulan dengan kinerja terbaik bagi West Texas Intermediate sejak Mei 2020 silam.

Pada Selasa (31/3) malam waktu AS, Presiden Trump menyatakan bahwa ia akan menarik pasukan AS dari Iran dalam dua hingga tiga minggu ke depan. "Kami pergi karena tidak ada alasan bagi kami untuk melakukan ini. Kami akan segera pergi," tegas Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

Trump juga menolak gagasan negosiasi untuk mengakhiri konflik dan mengklaim keberhasilannya dalam mencegah Iran memperoleh senjata nuklir. Ia menyebut Iran saat ini sebagai "rezim baru" yang "jauh lebih mudah diakses," sehingga tidak perlu membuat kesepakatan.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengonfirmasi adanya pertukaran pesan dengan AS, baik secara langsung maupun melalui negara-negara di kawasan. Namun, ia menekankan bahwa pertukaran ini bukanlah bentuk negosiasi. "Saya menerima pesan langsung dari (utusan khusus AS) Witkoff, seperti sebelumnya, dan ini tidak berarti bahwa kami sedang bernegosiasi," ujar Abbas. Ia menambahkan bahwa klaim negosiasi dengan pihak mana pun di Iran tidak benar, dan semua komunikasi dilakukan melalui Kementerian Luar Negeri atau lembaga keamanan.

Kekhawatiran di Pasar Energi Global

Di tengah pernyataan tersebut, drone peledak Iran terus menargetkan sumber dan pasokan bahan bakar di Timur Tengah. Insiden terbaru melibatkan serangan terhadap tangki bahan bakar di Bandara Internasional Kuwait, yang menyebabkan kebakaran dan kerusakan parah.

Situasi semakin memanas setelah Garda Revolusi Iran secara terbuka mengumumkan niatnya untuk menyerang perusahaan-perusahaan AS di kawasan, dimulai pada Rabu (1/4). Target yang disebutkan mencakup 18 perusahaan besar seperti Google, Microsoft, Apple, Intel, IBM, Tesla, dan Boeing. Ancaman ini menjadi faktor utama yang membuat pasar energi global tetap dalam kewaspadaan tinggi.

Michael Feller, salah satu pendiri lembaga think-tank Geopolitical Strategy, menilai bahwa Trump berada dalam posisi sulit. "Mundur sekarang berarti mengakui kekalahan," kata Feller. Ia juga mengingatkan bahwa tindakan menghancurkan infrastruktur sipil, seperti yang pernah diancam Trump, hanya akan memperburuk situasi dan mendorong kenaikan harga minyak lebih lanjut.

Recommended