Harga Bahan Baku Tekstil di Pasar Cipadu Naik Imbas Konflik Timur Tengah

Pedagang kain di Pasar Cipadu menaikkan harga jual hingga Rp2.000 per meter akibat lonjakan harga bahan baku tekstil dari agen sejak pertengahan April 2026.

Pedagang tekstil di Pasar Cipadu, Tangerang, mulai menaikkan harga jual kain pakaian dan seragam pada Kamis (16/4/2026) menyusul lonjakan harga bahan baku dari tingkat agen. Kenaikan harga ini dipicu oleh tekanan global akibat konflik yang sedang berlangsung di kawasan Timur Tengah.

Kenaikan harga di tingkat retail tercatat berkisar antara Rp1.500 hingga Rp2.000 per meter untuk berbagai jenis bahan kain. Kondisi ini mulai dirasakan pedagang sejak satu minggu terakhir akibat penyesuaian biaya dari produsen bahan baku tekstil dalam negeri.

Dilansir dari Detik Finance, salah satu pedagang di Pasar Cipadu, Muklis, menjelaskan bahwa harga kain jenis American drill yang ia jual kini mencapai Rp31.500 hingga Rp32.000 per yard. Sebelumnya, kain tersebut dipasarkan dengan harga paling murah Rp30.000 per yard.

"Harga memang sudah naik dari agen-agennya sekitar Rp1.500 per yard sejak satu minggu lalu. Kami ikut menyesuaikan karena tidak mungkin menjual di bawah harga modal," kata Muklis, pedagang kain di Pasar Cipadu.

Ade, penjaga toko kain lainnya di kawasan yang sama, melaporkan kenaikan serupa pada penjualan sistem gulungan atau rol. Harga kain per rol yang sebelumnya Rp825.000 melonjak menjadi Rp870.000, sementara harga eceran atau keteng naik dari Rp35.000 menjadi Rp37.000 per meter.

Meskipun terjadi kenaikan harga, para pedagang mengaku lebih mengkhawatirkan penurunan jumlah pembeli di pasar yang kian sepi. Banyak pelanggan korporasi yang kini melakukan efisiensi dengan memperpanjang durasi penggantian seragam karyawan dari setahun sekali menjadi tiga tahun sekali.

Saat ini para pedagang lebih banyak mengandalkan pesanan melalui aplikasi pesan singkat dari pelanggan tetap untuk bertahan di tengah kelesuan aktivitas pasar fisik. Belum ada kepastian mengenai potensi kenaikan harga lanjutan karena produsen masih melakukan penyesuaian secara bertahap.

Recommended