Raksasa fesyen cepat H&M mengumumkan langkah besar untuk menghentikan operasional sekitar 160 toko fisiknya secara global hingga tahun 2026. Keputusan ini merupakan bagian integral dari strategi transformasi bisnis perusahaan, yang kini bergeser lebih jauh ke arah penguatan kanal digital dan peningkatan efisiensi operasional.
Pergeseran ini didasari oleh perubahan signifikan dalam perilaku konsumen. Masyarakat modern semakin memilih berbelanja secara daring dibandingkan dengan mengunjungi toko fisik. H&M melakukan penyesuaian besar demi merespons tren ini.
Seperti dilaporkan Medcom pada Selasa, 8 April 2026, H&M telah menutup 163 lokasi di seluruh dunia sebagai bagian dari reorientasi strategisnya. Fokus perusahaan bergeser ke e-commerce serta investasi pada lokasi toko yang memiliki profitabilitas paling tinggi.
Optimalisasi portofolio toko ini memang berdampak pada penurunan laba H&M di kuartal pertama 2026. Laporan pendapatan perusahaan menyatakan bahwa penutupan dan pembangunan kembali toko memberikan efek negatif pada penjualan.
Namun, manajemen H&M memproyeksikan bahwa pada keseluruhan tahun 2026, dampak penjualan dari optimalisasi toko akan sedikit positif. Tujuan utama dari optimalisasi ini adalah mencapai margin keuntungan yang lebih tinggi per kaki persegi, sekaligus memangkas biaya terkait staf dan kelebihan persediaan.
Penekanan pada e-commerce menjadi faktor krusial dalam restrukturisasi yang dilakukan H&M. Perusahaan menyadari bahwa keinginan pelanggan telah berkembang.
Konsumen masa kini mencari inspirasi dan ketersediaan produk agar mereka dapat berbelanja di mana pun, kapan pun, dan dengan cara apa pun yang mereka pilih. Ini mencakup berbelanja di toko, situs web merek sendiri, pasar digital, dan melalui media sosial.
Tren Penurunan Toko Fisik di Industri Ritel
Dengan sekitar 160 lokasi yang berisiko ditutup, para pakar industri melihat tren ini sebagai bagian dari fenomena yang lebih luas. Dominick Miserandino, CEO Retail Tech Media Nexus, menjelaskan bahwa pembeli saat ini lebih berorientasi pada nilai. Mereka lebih banyak melakukan pembelian secara online dan menunjukkan loyalitas yang lebih rendah terhadap toko fisik tradisional.