Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kontraksi sebesar 3,06 persen hingga parkir di level 7.152,85 pada penutupan perdagangan sesi I, Jumat (24/4/2026). Penurunan tajam ini dipicu oleh akumulasi tekanan geopolitik global serta kondisi makroekonomi domestik yang menantang.
Data perdagangan RTI Business yang dilansir dari Detik Finance menunjukkan dominasi tren negatif dengan 642 saham melemah, sementara hanya 90 saham yang menguat dan 82 saham lainnya tidak bergerak. Volatilitas pasar meningkat seiring kekhawatiran investor terhadap ketidakpastian pasar internasional.
Pelemahan ini juga beriringan dengan fluktuasi nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh angka Rp 17.310 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Kamis (23/4). Tekanan pada mata uang Garuda berkontribusi pada meningkatnya risiko premium di pasar modal Indonesia sepanjang tahun berjalan.
Merespons dinamika pasar, Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mengimplementasikan perubahan kriteria konstituen pada indeks utama seperti LQ45, IDX30, dan IDX80. Langkah ini mencakup pengetatan aturan free float minimum dan pengawasan terhadap konsentrasi kepemilikan saham tinggi (HSC).
"Perubahan-perubahan yang kita lakukan harapannya memberikan informasi yang lebih clear kepada para investor, lokal maupun asing, dan juga menambah likuiditas ke pasar," kata Irvan Susandy, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Jumat (24/4/2026).
Irvan menambahkan bahwa meskipun inisiatif Self-Regulatory Organization (SRO) ini bertujuan mengamankan pasar, faktor eksternal masih memegang peranan dominan. Pengaruh global saat ini dinilai memiliki dampak yang lebih besar terhadap keputusan investasi dibandingkan sentimen domestik.
Head of Research PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menjelaskan bahwa koreksi rupiah sebesar 3,5 persen sepanjang 2026 masih lebih baik dibanding mata uang pasar berkembang lainnya. Menurutnya, kondisi ini lebih mencerminkan sentimen risk-off global daripada krisis kebijakan internal.
Pasar kini menantikan pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai peninjauan indeks pada 12 Mei 2026. Selain itu, hasil Market Accessibility Review yang dijadwalkan pada Juni 2026 akan menjadi indikator penting bagi persepsi investor global terhadap transparansi pasar modal Indonesia.