IHSG Dibuka Anjlok 0,48 Persen ke Level 6.065

IHSG dibuka melemah 0,48 persen ke level 6.065,63 pada perdagangan Jumat pagi di tengah tingginya aksi jual investor asing.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belum mampu keluar dari tekanan pada perdagangan jelang akhir pekan. Dikutip dari Medcom, pasar saham domestik kembali mengawali hari di zona merah akibat kekhawatiran pasar terhadap situasi ekonomi dan arus keluar modal asing.

IHSG terkoreksi sebesar 29,31 poin atau melemah 0,48 persen menuju posisi 6.065,63 pada pembukaan perdagangan Jumat pagi, 22 Mei 2026. Penurunan ini juga diikuti oleh kelompok saham unggulan LQ45 yang merosot 2,42 poin atau 0,39 persen ke level 613,98.

Laju negatif pasar saham dalam negeri memperpanjang tren pelemahan yang terjadi selama beberapa hari terakhir. Kondisi ini kontras dengan situasi di bursa saham Amerika Serikat yang justru mencatatkan penguatan pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Indeks Dow Jones Industrial Average di Wall Street melonjak 0,55 persen ke level 50.285,66. Selain itu, S&P 500 naik 0,17 persen menjadi 7.445,72, dan Nasdaq Composite terapresiasi tipis 0,087 persen ke posisi 26.293,10.

Akan tetapi, performa positif dari pasar global tersebut belum cukup kuat untuk mendorong kenaikan IHSG. Investor domestik tampaknya masih mengkhawatirkan prospek pertumbuhan ekonomi nasional ke depan.

Tekanan Jual Asing dan Analisis Teknikal

Pada sesi perdagangan hari sebelumnya, IHSG ditutup anjlok hingga -3,54 persen ke level 6.094. Pelemahan tersebut diiringi oleh aksi jual bersih oleh investor asing atau net foreign sell yang mencapai Rp508 miliar di pasar reguler.

Koreksi ini tetap terjadi sekalipun bursa utama di kawasan regional bergerak menguat. Penurunan harga minyak mentah dunia setelah adanya perkembangan positif dalam pembahasan proposal damai antara Amerika Serikat dan Iran juga belum mampu menjadi sentimen positif.

Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas mengungkapkan bahwa pelaku pasar saat ini tengah mencermati pernyataan dari S&P Global Ratings. Lembaga tersebut menilai rencana pengendalian ekspor berisiko menekan kinerja ekspor dan penerimaan negara, serta memperbesar risiko neraca pembayaran Indonesia.

Kondisi tersebut pada akhirnya memicu kecemasan investor terhadap stabilitas makroekonomi jangka panjang dan outlook peringkat utang Indonesia.

"Secara teknikal, IHSG masih berada dalam tren bearish dengan support terdekat di area 6.000 dan support lanjutan 5.900, sementara resistance berada di kisaran 6.400. Fokus pasar selanjutnya akan tertuju pada rilis data Current Account Balance dan M2 Money Supply," jelas tim riset.

Recommended