IHSG Dibuka Melemah 0,06% di Level 6.984,37 pada 7 April 2026

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di zona merah, turun 0,06% ke level 6.984,37 pada Selasa, 7 April 2026, dipengaruhi sentimen domestik dan global.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan hari ini, Selasa (7/4/2026), dengan bergerak di zona negatif. Penurunan tipis ini menempatkan IHSG masih di kisaran level 6.900-an.

Dikutip dari RTI, pada pukul 09.10 WIB, IHSG tercatat di posisi 6.984,37. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 0,06% atau setara dengan 4,48 poin dari posisi sebelumnya. Saat pembukaan, indeks berada di level 7.001,27, dengan level tertinggi sempat menyentuh 7.015,89 dan level terendah berada di 6.976,77.

Data transaksi menunjukkan volume perdagangan mencapai 2,67 miliar saham, dengan nilai transaksi sebesar Rp 1,16 triliun. Total frekuensi transaksi tercatat sebanyak 186.568 kali. Sebanyak 295 saham berhasil menguat, sementara 210 saham melemah, dan 186 saham lainnya stagnan.

Di pasar saham Asia lainnya, pergerakan indeks bervariasi. Indeks Nikkei terpantau menguat 0,16%, sedangkan Hang Seng mengalami penurunan 0,70%. Sementara itu, Shanghai Composite Index berhasil menguat tipis sebesar 0,36%.

Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih, dalam risetnya menyampaikan prediksi bahwa IHSG pada hari ini, 7 April, akan bergerak bervariasi dalam rentang 7.900-7.050. Beberapa sentimen utama yang memengaruhi pergerakan indeks ini berasal dari dalam negeri dan mancanegara.

Dari sisi domestik, IHSG mengalami koreksi akibat aliran dana keluar (outflow) investor asing yang mencapai Rp 623 miliar di seluruh pasar ekuitas pada tanggal 6 April. Secara akumulatif sejak awal tahun, IHSG mencatatkan penurunan sebesar 19,17% year-to-date, menempatkannya pada posisi ke-35 dari 36 bursa efek yang menjadi anggota World Federation of Exchanges (WFE).

Selain itu, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS berdasarkan kurs JISDOR juga terdepresiasi ke level terendah sepanjang masa, yakni Rp 17.037 per Dolar AS pada 6 April 2026. Situasi ini menambah tekanan pada pasar saham.

Namun, terdapat sentimen positif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). OJK menyampaikan bahwa ada 15 perusahaan yang berada dalam daftar pipeline penawaran umum perdana (IPO) per 6 April. Total potensi dana yang bisa dihimpun dari aksi korporasi tersebut diperkirakan mencapai Rp 13,8 triliun. Sampai dengan 6 April 2026, baru satu emiten, yaitu WBSA dari sektor transportasi dan logistik, yang berada dalam masa penawaran umum dengan harga Rp 168 per saham, berpotensi menghimpun dana IPO sebesar Rp 302,4 miliar, seperti disampaikan Ratih.

Faktor Global dan Geopolitik

Di ranah global, bursa Wall Street menunjukkan pergerakan terbatas di awal pekan. Indeks S&P 500 menguat 0,45%, sementara Nasdaq naik 0,54%. Situasi geopolitik juga menjadi perhatian utama pasar.

Iran dikabarkan kembali menolak proposal gencatan senjata terbaru untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama 45 hari. Iran juga menolak pembukaan Selat Hormuz. Presiden AS sebelumnya menetapkan batas waktu perundingan hingga 7 April pukul 8 malam waktu ET (8 April pukul 7.00 WIB).

"Jika kesepakatan belum tercapai, Amerika Serikat mengancam akan melancarkan serangan militer berskala besar terhadap infrastruktur Iran, seperti pembangkit listrik dan jembatan," tutur Ratih. Selain itu, pasar juga akan mencermati risalah pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) The Fed pekan ini untuk mencari petunjuk arah suku bunga pada tanggal 28-29 April mendatang.

Recommended