IHSG Melemah Akibat Konflik AS-Iran dan Kenaikan Harga Minyak

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 0,44 persen ke level 7.153 pada 2 April 2026, tertekan oleh konflik AS-Iran dan harga minyak yang tinggi.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan signifikan pada perdagangan pagi 2 April 2026, tercatat turun 0,44 persen ke level 7.153,11. Penurunan ini dipicu oleh sentimen global, terutama ketidakpastian seputar konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, serta lonjakan harga minyak dunia.

Pelaku pasar memilih untuk bersikap "wait and see" sambil menanti pidato resmi Presiden AS Donald Trump mengenai perkembangan terkini konflik AS dengan Iran. Dikutip dari Medcom, sikap ini mencerminkan kehati-hatian investor dalam mengambil keputusan di tengah tensi geopolitik yang tinggi.

Menurut Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, fokus pasar saat ini tertuju pada pidato Presiden Trump, yang dinilai dapat menjadi katalis penentu arah pasar ke depan. Liza mengemukakan bahwa sentimen global telah bergeser dari fase eskalasi menuju de-eskalasi, dengan AS menyatakan telah mencapai tujuan utama terhadap Iran.

Amerika Serikat juga membuka kemungkinan untuk mengakhiri konflik dalam 2-3 minggu tanpa memerlukan kesepakatan formal. Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian dilaporkan terbuka untuk mengakhiri konflik dengan beberapa syarat, termasuk pengakuan hak Iran, pembayaran kompensasi, serta jaminan internasional terhadap agresi di masa depan.

Meskipun ada harapan perdamaian, ketidakpastian tetap tinggi karena inkonsistensi arah kebijakan AS. Hal ini terutama terkait status Selat Hormuz, opsi militer lanjutan, hingga potensi keterlibatan sekutu dalam konflik. Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital penyaluran sekitar 20 persen minyak global, masih tertutup dan membatasi lalu lintas tanker secara signifikan.

Dampak pada Harga Minyak dan Pasar Saham Regional

Di tengah optimisme de-eskalasi konflik, harga minyak mentah masih bertahan di atas level USD100 per barel. Penurunan harga minyak jenis Brent sempat menyentuh USD101,06 per barel dan WTI USD99,42 per barel. Namun, para analis seperti dari ING memperkirakan pemulihan pasokan tidak akan terjadi secara cepat mengingat proses pembersihan antrean kapal akan memakan waktu.

Kepala International Energy Agency (IEA), Fatih Birol, juga memperingatkan bahwa gangguan pasokan dapat meningkat pada bulan April, khususnya bagi pasar Eropa yang sangat bergantung pada jalur distribusi Timur Tengah.

Kondisi pasar regional Asia juga menunjukkan pelemahan. Indeks Nikkei melemah 1,85 persen ke 52.748,00, indeks Shanghai turun 0,24 persen ke 3.938,94, indeks Hang Seng melemah 1,01 persen ke 25.036,50, dan indeks Strait Times turun 0,29 persen ke 4.961,51. Data-data ini mengindikasikan bahwa ketidakpastian geopolitik memiliki dampak luas terhadap kinerja pasar saham global.

Recommended